folder Filed in Prosa, Yang Lain
Kamu yang Terlalu Kaku
Terkadang ada yang tersangkut karena terlalu dipaksakan. Alhasil, robek.
Bernadetha Maria comment 0 Comments access_time 1 min read

Aku kadang tidak mengerti dengan bagaimana konsep semesta bercanda
Menarik, lalu mengulur.
Membolak-balikan, lalu mungkin mereka tertawa.
Mungkin nampaknya lucu, menyuguhkan secangkir coklat hangat saat aku tersungkur
kedinginan.
Tapi lalu memberikan masam di dalamnya.
Katamu, “masih banyak yang lebih buruk dari itu”
“Ah, tetap saja masam!”
Lalu aku yakin mereka sedang tertawa, sekali lagi. Diikuti kamu.

Aku kadang tidak mengerti dengan bagaimana konsep semesta bekerja.
Seenaknya merobekan jaitan yang pada tempatnya lalu menyambungnya dengan benang di
ujung sebrang.
“Lihatlah, bentuknya tidak karuan sekarang.”
“Mereka belum selesai, sayang” katamu.
Oh, dia pikir mereka bisa mengurai benang yang sudah saling tumpang tindih dan saling
mencekik satu sama lain? Melebur antara ujung tanpa tahu berakhir dimana. Tukang jahit
handal pun tak akan sanggup.
“Mereka kan bukan tukang jahit”
“JUSTRU ITU”

Lagi-lagi aku tidak mengerti dengan bagaimana konsep semesta bermain.
Berkali-kali menyusun kepingan teka-teki dengan pasangan yang salah lalu berulang
mencoba memperbaikinya.
Terkadang ada yang tersangkut karena terlalu dipaksakan. Alhasil, robek.

Bodoh sekali, anak kemarin sore pun bisa menyelesaikannya sebelum mereka kembali
menerbitkan matahari ke langit.
“Kamu itu, kenapa tidak mencoba ikut bermain bersama mereka?” Katamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment