Yang Meruah, Tumpah

Penilaian, angka, dan kata-kata; bisa jadi adalah hal yang sering kita cari untuk meningkatkan harga bagi diri sendiri. Mengelabui realita demi rasa senang yang sementara, demi seonggok harapan untuk jadi bermakna.

Saya—well, sebenarnya saya yakin kita semua—pernah terombang-ambing dalam pencarian jati diri. Tergelitik ingin menjadi orang lain yang lebih sukses, pintar, bahkan rupawan. Menjual segala kelebihan di Instagram hingga terlihat seperti manusia tanpa cela, mengedit semua bercak hitam yang ada di muka, atau menggunakan ratusan tagar hanya agar sebuah gambar yang telah disortir dari ribuan gambar serupa dapat lebih ‘terlihat’. Hal ini dilakukan begitu banyak orang sehingga seolah menjadi sesuatu yang normal.

Apakah selalu salah? Entahlah. Lagi pula, ada argumen yang ditawarkan film favorit saya terkait perilaku itu: “Isn’t what we do in life a way to be loved a little more?”

Inspirasi kadang menjadi kata kerja yang berat dan membingungkan, apalagi karena berbatas satu garis tipis dengan obsesi. Rasanya semua orang kerap berlari dan berambisi menjadi yang tak tertandingi. Mendengar seorang penyanyi bersuara emas membuat kita latah ingin bermusik juga. Melihat lukisan seseorang yang banyak dikagumi membuat kita sontak membeli cat air juga. Sejatinya, terkadang manusia memang terlalu sibuk meniru, iri, bahkan mencintai satu sama lain, sehingga dalam perjalanannya terlalu sering kehilangan dirinya masing-masing.

Alangkah mudahnya bila hidup diiringi dengan buku panduan. Tau apakah sudah harus berhenti, atau masih perlu berjalan lurus lagi. Berkuasa penuh atas apa yang akan terjadi, tanpa perlu berjuta kali tertatih-tatih.

Mungkin ada satu yang saya tau pasti: ribuan cinta yang diberikan orang lain tak akan pernah cukup untuk menggenapkan cinta kepada diri saya sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top