Terbiasa

Berapa banyak luka yang kamu bawa seumur hidup?

Dibanding-bandingkan dengan anak lain, melewati pubertas sendirian, ditempa ratusan kegagalan, sampai akhirnya menjalani hari seperti tanpa tujuan. Semua terakumulasi dan membuat beberapa orang sinis pada kehidupan, karena segala kenangan pahit yang seolah-olah tak pernah ada ujungnya. Mencari pelarian dengan menjalani detik demi detik
yang sibuk dan penuh grasak-grusuk.

Berat.

Akhirnya manusia masih menjalani hari seperti biasa, tidak sadar betapa banyak waktu yang telah berlalu. Awalnya satu, tapi perlahan mereka meniup lilin dengan dua angka, lalu berubah menjadi kepala dua, begitu pun seterusnya. Di tengah segala kerusuhan itu, kadang mereka teringat dengan luka lama, yang menghasilkan sangkalan demi sangkalan. Sesuatu yang sering diucapkan pada diri sendiri. Dalih berbentuk “Akan saya balas, lihat saja nanti!” atau “Ya sudahlah, habis gelap terbitlah terang.”

Sia-sia.

Nyatanya manusia sering tidak berbuat apa-apa, bahkan terlalu lelah untuk membetulkan masalah yang nyata. Lagi-lagi bersembunyi dengan kedok, “Biar waktu yang menjawab.” Padahal tidak juga.

Saya kira menjadi dewasa itu berarti mengerti segalanya. Siap ketika keran di rumah bocor, tidak kebingungan saat tabung gas habis di tengah malam saat ingin memasak mie instan, tau apa yang akan dilakukan setiap lima sampai sepuluh tahun ke depan, dan paham konsekuensi atas apa saja yang telah dijalankan.

Ternyata bukan. Seiring berjalannya waktu, yang saya temukan malah fakta yang bertolak belakang dari pikiran saya waktu kecil. Rupa-rupanya semua orang sama; yang lebih tua hanya sudah bingung lebih lama. Itu saja.

Mungkin itu semua akumulasi dari masalah yang tidak pernah teresolusi dengan baik, mungkin juga salah satu produk yang dihasilkan dari sibuk mencari alasan karena berharap semesta akan mengambil alih. Apalagi hidup di masa seperti ini, menghabis-habiskan waktu dan terdistraksi dengan sesuatu yang tidak terlalu penting rasanya bukan perkara susah.

Lagi-lagi, di tengah kesibukan akan muncul satu momen yang menyambar seperti petir di siang bolong. Sebuah swa-realisasi yang berujung kontemplasi. Teringat lagi macam-macam dalih yang diucapkan beberapa tahun lalu, atau terbutakan dengan dengki saat melihat garis akhir seseorang, tanpa memikirkan proses yang mereka lalui sebelumnya. “Kok mereka bisa sih?” atau versi yang lebih buruk, “Apa yang salah dari saya?”

Until you have a nice day, have a day.

Saya rasa setiap orang membawa luka yang berbeda-beda, tapi semua yang terluka memiliki beban yang sama. Tidak ada yang lebih nelangsa, tidak ada yang lebih bahagia. Semua relatif, tergantung cara pandang dan menjalankannya.

Pelan-pelan, yang penting, jalan di tempat bukanlah alasan.

Saya belum lama menjalani hidup, yang saya tau, waktu tidak menyembuhkan. Ia hanya membuat manusia terbiasa dengan semua yang ada di tubuhnya. Kalau beruntung, perlahan-lahan kita akan mencintai luka itu sendiri. Menganggapnya sebagai kenangan bahwa ada pertempuran lain yang sudah berhasil dilalui.

Mungkin itu bukan arti harfiah dari sembuh, tapi saya rasa, itu cukup.

Sampai saat itu, have a day.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top