Tentang Guru-Guru Kami

Tidak banyak, kalian hanya meminta jarak. Dan kami sudah berteriak, seolah apa yang direnggut dari kami berjuta kali lebih berat.

Melawan siang, berkawan dengan malam. Menjadi baris pertama dalam perang di dalam jurang. Musuh yang tak tau rimbanya, kalian hadapi walau kaki menolak untuk berdiri.

 

Kalian terpaksa memberi jarak. Dari keluarga dan anak, yang menjadi pelipur lara ketika dada mulai terasa sesak. Dari kasih dan cinta, dan diharapkan tak menjadi gila. Dari kehidupan yang lainnya, demi nyawa jutaan manusia.

 

Kalian hanya meminta jarak, agar dapat maju untuk bertempur. Tanpa senjata, diharapkan untuk tak gugur. Atas sumpah di hadapan Tuhan, yang diambil ribuan purnama silam.

 

Kalian hanya meminta jarak, terisak ketika saudara kalian satu persatu mulai pergi. Meminta kami tak terlibat lagi, karena ini perang melawan Sengkuni, sedangkan kami hanya onggokan kurcaci.

 

Gaduh, rusuh.

Perlahan berhancuran seperti yang telah kalian pikirkan. Satu dari sekian kutukan profesi ini; mengetahui kemungkinan besar yang akan terjadi. Saat semua berada di titik nadir, seolah hanya menunggu takdir.

 

Kalian hanya mengemis jarak, berjuang dengan serpihan energi, tak peduli dengan gelar yang akan diberi, dari para petinggi yang berlagak tak takut mati.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top