Perjalanan Tak Berujung

Banyak hal yang lebih mudah dipelajari secara teori dibanding pengaplikasiannya.

Mencintai diri sendiri hanya satu dari sekian contohnya, tapi manifestasinya bisa jadi berjuta-juta.

Sejak kecil saya harus melewati konflik batin berkepanjangan karena penampilan fisik yang tidak sesuai standar kecantikan. Dihina sana-sini sudah jadi hal biasa sehari-hari. Yang lebih menyakitkan, kadang semua cacian ini datang dari orang sekitar.

Kulit saya tidak akan pernah bisa berubah menjadi lima tingkat lebih cerah, tapi perlahan-lahan saya mulai menerima kenyataan kalau itu bukan masalah.

Saya pun mengira hal itu sudah resmi membuat saya mencintai diri sendiri, sampai akhirnya saya sadar akan suatu hal: meskipun saya baik-baik saja dengan tidak menjadi “cantik”, saya masih terjebak di pertemanan yang hanya gibah sana-sini, tapi tidak pernah benar-benar peduli. Bukannya itu berarti saya belum sepenuhnya sayang dengan diri sendiri?

Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya saya merasa lelah. Usai mundur teratur dari lingkungan penuh cibiran, lagi-lagi saya kira rasa cinta saya terhadap diri sendiri sudah maksimal, hingga akhirnya saya diingatkan kalau masih bersama dengan pasangan yang abusive secara verbal.

“Dia kayak gitu karena mau aku lebih baik aja, niatnya baik kok.”
“Omongannya nggak sebanding sama kebaikan yang dia kasih selama ini, enggak apa-apa, bener deh.”

Hingga lambat laun saya mulai tersadar betapa bodohnya membohongi diri sendiri.

Sebagai mahasiswi kedokteran, tentunya saya familiar dengan istilah long life learning, memperbarui ilmu yang berkembang setiap hari, menyaksikan banyak perubahan yang terjadi, hingga memecahkan teka-teki dari sesuatu yang tidak pasti.

Yang saya tidak tau, ternyata mencintai diri sendiri pun sesuatu dengan konsep yang bisa dibilang sama. Pekerjaan seumur hidup! Seperti perjalanan tak berujung, dan—ternyata—bersifat fluktuatif juga.

Sudah jelas saat kanak-kanak saya tidak paham dengan hal itu, meskipun saat beranjak remaja sampai menjadi dewasa pemahaman itu berangsur membaik, tidak serta-merta membuat saya selalu positif juga. Ada hari-hari di mana saya merasa menjadi perempuan paling cantik sedunia, dan ada hari lain di mana saya merasa tidak lebih baik dari itik buruk rupa.

Ada kutipan menarik yang saya temukan satu minggu lalu, yang kira-kira berbunyi seperti ini, “Hubungan yang kita miliki dengan diri kita sendiri adalah hubungan yang paling rumit. Kita tidak bisa lari dari diri sendiri, kita harus siap memaafkan setiap kesalahan, kita harus berdamai dengan segala ketidaksempurnaan, dan kita harus menemukan cara mencintai diri kita sendiri, walau di saat yang sama, kita muak dengan diri ini.”

Yang saya tangkap, sebenarnya semua ini sama seperti rasa cinta kita terhadap makhluk lain. Bisa tiba-tiba tersisipi jenuh, marah, bahkan berubah menjadi benci. Tapi lagi-lagi, tidak ada yang bersifat selamanya, dan itu tidak apa-apa.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top