folder Filed in Hidup, Sepasang
Konsep Seseorang
Abstraksi mengenai segala-galanya. Tentang ekspektasi dan kenyataan, kelamin, obrolan sampai pagi, bahkan kepergian itu sendiri.
Balqis K. Nabila comment One Comment access_time 1 min read

Saya pernah jatuh pada konsep tentang seseorang. Sesuatu yang rasanya sederhana untuk dihindari, tapi nyatanya ratusan manusia lain juga masih alami. Kompromi berlebihan terhadap suatu hal yang sesungguhnya tidak saya sukai, entah demi sebuah validasi, atau seutas rasa dicintai.

Saya pernah jatuh pada konsep tentang seseorang. Berbagi selera musik dan komedi, berbicara banyak sampai larut pagi. Menganggap semua pesan yang kadang tak terbalas merupakan caranya mendekatkan diri, dan memastikan agar saya tidak pergi. Sampai akhirnya saya sadar kalau itu semua muncul karena pemaksaan frekuensi.

Saya pernah jatuh pada konsep tentang seseorang. Sesuatu yang membuat saya menurunkan harapan terhadap perasaan. Sesuatu yang membentuk gagasan menetap di pikiran, bahwa konsep tuan dan puan mungkin tidak seindah apa yang ada di bayangan. Bahwa semua yang diatasnamakan hubungan akan runtuh secara perlahan. Entah karena keegoisan masing-masing, atau kedatangan orang lain.

Saya sering jatuh pada konsep tentang seseorang. Hingga akhirnya datang sepasang tangan yang menawarkan kenyamanan. Tangan yang selalu terulurkan walau seratus tujuh belas kali mengalami penolakan. Genggaman yang akhirnya membuat saya cukup beruntung untuk berkata, “Ternyata tidak juga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment