Dikejar Waktu

Dari kecil saya selalu merasa kalau waktu saya tidak banyak. Entah itu sebuah keyakinan yang menetap di alam bawah sadar, atau ketakutan yang muncul karena terlalu banyak membaca dongeng yang merana. Yang saya tahu, saya tidak pernah yakin kalau umur saya akan lebih dari dua puluh tahun—puji syukur sudah lewat. Saya tidak yakin waktu saya akan cukup panjang sampai bisa menikah, apalagi membayangkan untuk menjadi seorang ibu— dua keinginan yang belum terwujud sampai sekarang.

Dunia pun seperti mengamini kekhawatiran saya. Dari kecanggihan teknologi yang membuat manusia sering lupa waktu, hingga hidup di ibu kota yang membuat sering lupa diri. Seperti elemen-elemen di sebuah cerita, dua hal itu menjadi duet maut dalam membuat satu hari berjalan dengan tempo yang begitu cepat, sampai-sampai manusia gagap untuk menyusul langkahnya. Terlalu sibuk tertatih-tatih agar tidak tertinggal, hingga lupa benda apa, sih, yang sebenarnya dikejar? Saya ini punya tenaga yang cukup atau tidak untuk tetap melangkah?

Hidup menjadi salah satu saksi sejarah bahwa pandemi ini tidak mengurangi kekhawatiran utama saya, alih-alih membuat pikiran semakin jengkel; menjalani hari seolah diburu waktu, bergelut dengan rasa gelisah, sambil berusaha menyihir kepala sendiri untuk mengolah kepingan energi yang tersisa agar mampu bertahan hidup. Mungkin gambaran suasana hati saya selama swaisolasi ini seperti kurva mortalitas yang melonjak. Hari-hari pertama masih sangat mudah untuk dijalani, rasanya seperti liburan yang menenangkan. Kembali ke rumah setelah beberapa bulan merantau, istirahat lebih panjang, dan ditemani masakan Ibu setiap hari. Memasuki minggu kedua semua terasa lebih berat, hal kecil hingga besar berkontribusi membuat sakit kepala. Permasalahan teknis karena koneksi internet yang menyulitkan proses belajar dari rumah, berita yang sepertinya tidak pernah menyiarkan kabar baik, sampai bodohnya manusia-manusia yang sembarangan menyebar pesan berantai yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kurva saya terus merangkak naik perlahan-lahan ke puncak, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti dan turun karena keberuntungan.

Beberapa hari yang lalu semesta menakdirkan saya bertemu sebuah buku yang memaksa saya untuk mengubah cara memandang hidup. Temuan yang menyenangkan, terutama di masa seperti ini. Manusia diajarkan untuk fokus terhadap apa yang dimiliki saat ini, memaksimalkan panca indera agar lebih sensitif, dan diizinkan untuk bertindak lebih impulsif. Seolah mengajak beristirahat sejenak untuk maju beberapa langkah lebih cepat.

Ajaran tersebut perlahan-lahan meresap di pikiran saya. Menarik napas lebih panjang menjadi sangat melegakan, mendengarkan suara air yang turun dari pancuran kamar mandi jadi terasa magis, mengobral ucapan sayang di segala kondisi setiap hari, hingga menulis lebih sering karena tidak ingin mati tanpa legacy. Selain karena modal khawatir tidak bisa melihat matahari di esok hari, saya kembali berpikir, bukankah itu yang saya butuhkan selama ini?

Dalam beberapa diskusi tentang tempo hidup cepat yang sudah disinggung di awal tulisan, saya dan teman-teman sering merasakan kekhawatiran yang serupa. Kadang kami membicarakan keluhan yang sama sampai larut malam. Perkara kehilangan arah dan rasa lelah, semua obrolan terulang dengan redaksi berbeda, yang mungkin saat ini dapat diambil benang merahnya; bahwa sejatinya manusia sering merasa tidak bahagia karena kesulitan mensyukuri yang mereka punya.

Salah satu kutipan dari film favorit saya berbunyi: “Carpe diem, seize the day, make your lives extraordinary,”. Kalimat powerful yang dalam praktik sehari-hari sering dianggap sebagai beban. Walau mungkin, sebenarnya tidak perlu sesuatu yang besar untuk membuat suatu hal berkesan.

Saat ini mungkin semesta ingin kita berdiam diri, mengheningkan cipta sesaat untuk menarik napas lebih panjang. Istirahat dari lomba lari yang fana sembari bersyukur bahwa kedua kaki tersebut masih diberi kesempatan untuk menopang atau berdamai dengan kenyataan bahwa beberapa bulan yang lalu sebenarnya kita sangat bahagia, hanya saja kita tidak pandai menyadarinya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top