Dari Kacamata Orang Lain

Sebagai anak yang “dibesarkan” dengan kritikan, saya tumbuh menjadi pribadi yang terlalu keras dengan diri sendiri. Menuntut pencapaian di banyak hal, tertekan saat melakukan kesalahan, bahkan memiliki jiwa kompetitif yang rasanya tidak hilang sampai sekarang.

Tidak salah, bahkan nampak baik bila dilihat secara kasat mata. Apa sih yang lebih menyenangkan dari anak perempuan yang selalu jadi kebanggaan keluarga? Seseorang yang sering dijadikan pembanding orang tua lain dalam menilai anaknya sendiri. Memberi makan ego saya dengan lahapnya, seolah menjadi superior adalah tujuan utama di dunia.

 

Lalu, apa masalahnya?

 

Hal-hal tadi terakumulatif dan membentuk suatu persepsi yang saya ciptakan pada diri saya sendiri. Persepsi yang tentu saja salah, karena sebenarnya… tercipta dari pandangan orang lain.

 

Rumit? Memang. Tapi biar saya jelaskan sedikit.

 

Dulu, saya menganggap kalau ada anak lain yang mau bermain dengan saya, berarti saya orang yang menyenangkan, lalu saya akan girang karenanya. Bagus, bisa dilanjutkan, kata saya pada diri sendiri. Sembari mencentang hal tersebut di sebuah daftar pencapaian, seperti sedang melakukan akreditasi.

Dulu, saya menganggap kalau ada yang berbuat baik pada saya, berarti saya juga sudah melakukan hal yang tepat. Entah karena mereka ingin membalas kebaikan saya sebelumnya, atau memang orang lain ingin saja untuk berbagi dengan saya. Apa pun itu, keduanya tentu bukan hal buruk. Nice, syarat untuk mendapat nilai A tercapai lagi.

 

Sialnya, begitu juga dengan hal yang tidak menyenangkan.

 

Kalau ada yang menegur saya terkait satu hal, saya langsung defensif. Setelah itu saya akan denial, dan menghujani diri saya sendiri dengan komentar-komentar yang berat.

Kalau pacar saya sedang pusing karena suatu masalah, hari itu juga saya akan merasa tidak karuan. Kenapa saya tidak bisa membuat dia senang? Apa permasalahannya segitu besarnya sampai dia tidak bisa—setidaknya—sedikit bahagia karena ada saya? Yang akan diikuti jutaan hal negatif lain secara bertubi-tubi.

 

Bayangkan, seberapa sering kita menerima kritik?

Seberapa sering kita mendengar berita buruk terkait orang di sekitar kita?

Seberapa sering kita kecewa karena tidak berhasil dalam menggapai cita-cita?

 

Ya… sesering itu juga kita menjahati diri kita sendiri.

 

Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya kalimat-kalimat jahat itu mulai menghilang. Butuh puluhan purnama sampai akhirnya saya bisa mengikhlaskan kalau ada jutaan hal yang tidak bisa saya kendalikan. Dan butuh miliaran detik sampai saya bisa berhenti menilai diri saya dari kacamata orang lain.

Karena saya bukan rumah sakit yang harus lulus akreditasi untuk berfungsi, saya juga bukan mesin yang harus lulus quality control dengan nilai sempurna sebelum diedarkan di pasaran. Saya hanya manusia biasa yang banyak kekurangan, tapi lebih berharga dari lima deret nilai A.

Sudah banyak narasi tentang self-love, pentingnya diri sendiri, dan segala hal berbasis ke-aku-an yang muncul dalam berbagai media. Artikel di internet, video di YouTube, kelas-kelas seminar, atau bahkan sesi terapi. Nyatanya topik itu tidak pernah habis untuk dibicarakan, justru hal-hal tersebut seolah berkumpul dan muncul menjadi sebuah epitome sempurna tentang perjalanan seseorang dalam menemukan dan menghargai dirinya sendiri; tak berujung.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top