Suara-Suara

“Kamu itu enggak bisa apa–apa,” serunya. Berulang kali dikatakan dan berulang kali aku merasa itu benar. Sebagian dari aku memang tidak bisa apa–apa. Sebagian lainnya, berpikir aku bisa tapi kenyataannya tidak ada hasil apa pun yang bisa dibanggakan. Dan untuk kesekian kalinya, aku yakin itu benar.

Aku seperti dua bagian yang berlawanan dan dijadikan satu oleh Tuhan. Tuhan memberi aku anugerah berpikir keras. Tetapi, Tuhan sepertinya lupa memberikan aku kemampuan untuk percaya kepada diri sendiri, juga tentang keyakinan sebab akibat yang terjadi di semesta adalah pasti yang terbaik untuk aku, dan miliaran manusia lain.

“Kamu itu terlalu mengada-ada,” cegahnya saat aku ingin melanjutkan kalimat. Aku hanya termenung. Pikiranku sering melayang tidak pada tempatnya. Berimajinasi dan mencari alasan untuk tetap di sini, berdiri tegak.

“Dia salah, kamu berharga,” kata yang lain menengahi. Aku terkesiap. Terkejut bukan main. Ternyata di antara ribuan suara itu, ada yang membelaku. Ada yang berdiri melindungiku.

“Kamu tidak sempurna, tapi kamu itu penting,” lanjutnya. Dan pada akhirnya aku sadar, suara itu menggema di dekatku. Suara itu menghantui diriku. Suara itu ada di kepalaku seperti berperang untukku.

Suara itu adalah aku.

4.6 15 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top