folder Filed in Hidup, Senadi
Renungan
Sebuah renungan untuk menghargai penderitaan.
Ayu Riski comment 0 Comments access_time 3 min read

Setiap kita tidak dapat memilih terlahir dari keluarga yang seperti apa. Begitu pula dengan pilihan untuk dibesarkan, mendapatkan pendidikan yang baik, curahan kasih sayang serta cerita-cerita yang kerap menghiasi layar imajinasi kita tentang arti sebuah kebahagiaan. Tidak bisa. Namun, biar bagaimanapun, Tuhan sudah sangat adil menempatkan kita di posisi sekarang. Meski menurut kita mungkin belum baik, namun jika baik menurut-Nya, kita bisa apa?

Orang tuaku bercerai sejak aku berusia lima tahun. Selepas itu, aku mendapatkan hak sebagai anak berupa kasih sayang dan pendidikan dari keluarga ayahku. Bukan maksud ibuku melepas tanggung jawabnya, namun kondisi ekonomi dan ketakutannya yang tidak bisa memberiku pendidikan yang baik dan tinggi suatu saat kelak, membuat beliau terpaksa menyerahkanku kepada keluarga ayah. Mereka kini sudah memiliki jalan dan kehidupannya masing-masing. Ibu terlebih dahulu menikah jauh sebelum ayah meminta izin padaku untuk menikahi wanita pilihannya tujuh tahun silam.

Aku tidak merasa baik-baik saja.

Sesal dan keluh seolah menumpuk di pikiran. Mengapa semua seperti ini? Mengapa mereka harus berpisah dan menikah lagi? Bagaimana denganku? Kalimat-kalimat negatif itulah yang memenuhi kepalaku beberapa waktu silam. Aku merasa lemah dengan selalu merendahkan diri sendiri.

Hingga akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang bisa kubilang bermental baja. Orang-orang yang di luarnya selalu tertawa dan tak pernah gagal membuat jokes di setiap pertemuan, orang-orang yang terlihat bahagia karena postingan di media sosialnya yang selalu menjelajah ke tempat-tempat eksotis seolah tiada beban, serta orang-orang yang terlihat mudah saja melakukan apa yang ia inginkan karena orang tua yang selalu mendukungnya.

Namun, tahukah kita bahwa setiap wajah adalah topeng? Wajah yang ditunjukkan kepada kita belum tentu representasi dari kondisi jiwa mereka. Mereka menipu kita. Mereka menipu diri sendiri demi terlihat bahagia dan baik-baik saja. Tuhan menciptakan makhluk seperti mereka agar makhluk yang selalu berpikiran negatif seperti kita dapat sadar bahwa bukan kita yang hidupnya paling menderita. Dan aku mulai menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu sejak aku mendengar cerita-cerita mereka.

Temanku sangat supel, ceria, dan tak pernah terlihat murung sedikit pun acap kali kita bertemu. Hingga dua minggu sebelum ia menikah, aku baru tahu jika selama ini ia menanggung beban berat dengan masa lalu kedua orang tuanya yang di luar dugaanku–kupikir kejadian itu hanya terjadi di televisi saja. Bukan kapasitasku di sini untuk bercerita banyak mengenai keluarganya. Namun, aku hanya ingin berbagi untuk berhentilah berpikir negatif tentang diri kita. Berhentilah merasa terpuruk atas apa yang terjadi kepada kita. Di luar sana, orang-orang di sekitar kita yang selalu terlihat bahagia itu, sungguh kita tidak tahu kalau kehidupan mereka sebenarnya mungkin tidak lebih baik daripada kita. Jadi, angkat kepalamu dan bersyukurlah atas apa yang sedang kaujalani. Tetap optimis akan masa depanmu yang cerah. Tetap bahagiakan orang tua dan keluargamu –bagaimana pun keadaan mereka.

Karena, sekali lagi. Kita tidak dapat memilih melalui siapa kita dilahirkan dan dibesarkan. Tapi, kita dapat memilih untuk melakukan yang baik atau yang terbaik bagi mereka–yang selalu mencurahkan doa dan kasih sayangnya, bagaimanapun kondisinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment