folder Filed in Adalah, Prosa
Kursi Tua
Penyesalan serupa penghukuman terhadap diri sendiri.
Ayu Riski comment 0 Comments access_time 2 min read

Sebuah kursi tua terhampar tak berdaya di sudut sebuah rumah yang juga sudah tua. Aku mematung di depannya. Mengulang kembali cerita Mama seminggu yang lalu, tentang kursi tua ini, sejenis kursi goyang peninggalan nenek buyut, dua puluh satu tahun silam. Sama dengan umurku sekarang.

Angin dingin tiba-tiba hadir menyapa bulu romaku yang sedari tadi sudah berdiri. Kursi goyang tua itu pun tiba-tiba bergerak sedikit, tertiup angin. Napasku tercekat, suasana mistis sangat terasa.

“Ningsih…” seseorang menyentuh pundakku. Aku hampir menjerit, sebelum kutahu bahwa yang menyentuh pundakku adalah Mama, bukan setan.

“Mama, ih, bikin Ningsih kaget aja!” Wanita separuh baya yang tampak lebih tua dari umurnya itu tersenyum simpul sembari melihat kursi tua, lalu aku.

“Kamu sedang apa di sini?”

“Entahlah, Ma. Tadi, waktu Ningsih mau pulang ke rumah, perasaan Ningsih mengatakan bahwa Ningsih harus masuk ke rumah ini dan melihat kursi tua yang Mama ceritakan seminggu yang lalu.”

“Kau penasaran tentang cerita nenek buyutmu yang mati di atas kursi ini?”

“Begitulah.”

Fokus Mama kembali pada kursi tua itu. Seakan berada di masa saat Mama melihat nenek buyut terkapar tak bernyawa di atas kursi ini. Air matanya menetes. Menyiratkan kesedihan dan penyesalan yang masih tersisa, bahkan hingga ia mati sekalipun.

“Sampai saat ini Mama masih tidak bisa memaafkan diri Mama sendiri…,” sesal Mama, tersedu. Sembari berusaha menahan air mataku yang hampir tak terbendung, kupeluk wanita itu.

“Meski Mama sudah menjalani hukuman itu, namun tetap saja, Ningsih…,” tangisnya makin deras.

“Sudahlah, Ma. Peristiwa itu sudah lama terjadi dan Mama pun sudah menjalani proses hukum yang berlaku. Nenek juga pasti sudah memaafkan Mama disana,” hiburku.

Wanita separuh baya itu menangis sejadi-jadinya.

xxx

 

Harian Kriminal, Mei 1997.

Seorang cucu (25), tega membunuh neneknya (62) sendiri di atas kursi goyang. Menurut penuturan saksi, yaitu anak korban (36), kejadian itu bermula saat korban memarahi tersangka karena kedapatan pulang larut malam tanpa izin sebelumnya. Merasa tak terima dibentak sang nenek, tersangka menganiaya korban ketika sedang tidur di kursi goyang hingga tewas di tempat. Karena tindakan sadisnya inilah, tersangka terancam hukuman penjara selama dua puluh tahun.

xxx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment