Kintsugi—Sebuah Proses Kehidupan

Untuk setiap jatuh yang meninggalkan luka, untuk setiap sedih yang masih dirasa, untuk setiap amarah yang harus disampaikan malam ini juga—kalian adalah bukti bahwa hidup akan selalu berputar pada prosesnya

Perihal hidup, saya rasa tak ada satu pun dari kita yang ahli dalam menjalaninya. Kalaupun ada, saya yakin ia hanya mengada-ada saja. Kalaupun ada, ia tak pernah ada. Artinya, ya memang tidak ada. Lantas maksud ucapanmu apa? Mungkin setelah ini kau akan bertanya demikian, ya. Entah mungkin karena sudah terlalu kesal membaca beberapa kalimat pertama […]

Tata One Comment 5 min read Continue reading

Ketika Kecewa Jadi Teman

Ternyata, jatuh pun mampu menguatkan. Dan berteman dengan kecewa tak sepenuhnya jadi hal yang salah. 

“Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Kalau tidak terpenuhi, nanti sakit hati.”  Banyak orang yang mengatakan itu kepadaku sejak dulu. Yang walau sebenarnya tanpa diucapkan secara lantang pun aku mengerti, bahwa ketika ekspektasi masih terus saja kugantung pagi ini, maka kecewa kerap kali jadi teman di akhir hari. Tapi kurasa itu adalah hal yang wajar. Mengapa? Karena […]

Tata 3 Comments 2 min read Continue reading

Untuk Setiap Singgah yang Tak Pernah Menjadikannya Rumah

Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing.

Perihal kehidupan, ternyata ia memang jenaka apa adanya. Tujuh milyar manusia, katanya, namun ia gemar sekali mempertemukan sebelum akhirnya memisahkan—menjadikan yang awalnya asing menjadi tak asing, sebelum akhirnya kembali menjadikannya asing. Berpindah mengetuk dari satu hati ke hati yang lainnya, hanya untuk sekedarnya singgah sementara. Berpindah secara berkala sampai akhirnya kita lupa, sudah berapa banyak […]

Tata 0 Comments 2 min read Continue reading

Serangan Fajar

Serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba saja... kamu tak lagi ada.

Serangan fajar itu nyata, katanya. Menunggu untuk menyerang mereka yang tidak awas, menghancurkan apa yang tidak mereka sadari mereka miliki, menanti waktu yang tepat untuk mencuri sampai akhirnya mereka sadari bahwa hilang kini telah jadi teman mereka yang pasti. Iya benar, serangan fajar itu nyata, katanya. Sebagaimana aku lupa bahwa kamu pernah ada, dan tiba-tiba […]

Tata 3 Comments 2 min read Continue reading

Dariku, Rumahmu

Sayang, kalau kau baca ini, kuharap kamu akan segera kembali. Pintuku belum kukunci malam ini, masih ada bagian tak terisi di ranjang sebelah kiri, yang kupikir akan kau isi malam ini.

Pada akhirnya, akan selalu kau temukan rumahmu padaku. Entah sejauh apapun kamu berjalan, sedalam apapun kamu menyelam, seriuh apapun keramaian, akau selalu kau temukan rumahmu padaku. Memang bodoh kedengarannya, membukakan pintu lagi dan lagi untuk setiap lelah perjalananmu–menyeduhkan secangkir teh sehangat seduhan bunda, menghantarkanmu ke kasur untuk kau sambut tidur yang lebih nyenyak, merawat setiap […]

Tata 0 Comments 2 min read Continue reading

Istirahat Sesaat

Iya, ibukota kita ini lucu ya? Tak ada “ibu” di dalamnya. Tak ada hangat yang membuat kita ingin berlama-lama ada di tengahnya. Kalau mau tetap hidup, ya harus mampu bertahan. Kalau tidak, ya kau mati dibunuh oleh pelakon yang lain.

Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Ketika kulihat seisi jalanan padat ibukota, selasar pertokoan yang dipenuhi manusia tanpa rumah, KRL yang […]

Tata 4 Comments 2 min read Continue reading

Previous page Next page