Stefany Chandra
Stefany Chandra

Ketika Bermusuhan

Aku batu. Sekeras kepalamu atau tawa canggungku. Keras tiada ampun. Aku melempar diriku pada kamu, berharap mengintimidasi.

Aku batu. Sekeras kepalamu atau tawa canggungku. Keras tiada ampun. Aku melempar diriku pada kamu, berharap mengintimidasi. Intens, berulang kali. Tak masalah seberapa sering aku terkikis. Aku tahu aku tetap lebih keras darimu. Sampai aku tahu apa itu kamu. Asam. Cukup dosisnya untuk membunuhku. Setetes, dua tetes, mengalir di nadi-nadiku. Waktu aku bertemu denganmu, korosif […]

Stefany Chandra 0 Comments 1 min read Continue reading

Sepiring Berdua

Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama.

Bagi dia, bagi dua. Tambah lagi 1 telor dadar, pakai garam agak banyak. Bayar setengah harga, dia bilang tidak usah. Berdoa pada Tuhan yang sama. Caraku begini dia begitu. Tuhan, semoga makanan ini menyehatkan untuk jiwa raga kami, Amin. Piring di tengah meja, makan sambil lirik-lirik ke mata. Lalu ada tawa tentang lagu-lagu remaja, yang […]

Stefany Chandra 0 Comments 1 min read Continue reading

Tentang Berpulang

Kali ini aku pergi. Entahlah, entah untuk pergi atau sesungguhnya untuk pulang.

Sudah beberapa tahun berlalu sejak bandar udara Polonia dipindahkan ke Kuala Namu. Dan aku tidak pernah ke Kuala Namu sebelumnya. Selama itulah aku belum menyentuh tanah ini lagi. Kali ini aku pergi. Entahlah, entah untuk pergi atau sesungguhnya untuk pulang. Mobil Kijang yang kutumpangi sudah terbatuk-batuk. Mesinnya sudah tua namun tetap dipaksa bekerja. Ada gundukan […]

Stefany Chandra 0 Comments 4 min read Continue reading

Previous page Next page