Safitri Nurrohmaningrum
Safitri Nurrohmaningrum
Safitri Nurrohmaningrum lahir pada 12 September 1990. Saat ini, ia berdomisili di Jakarta dan aktif menulis di laman Kompasiana.

Kehidupan yang Sempat Hilang

Tapi aku telah belajar, sungguh tidak nyaman ketika kita harus terhenti pada satu langkah dan terpaku. Aku sedang memulai langkah baru. Kuharap setiap orang yang sedang patah dan menyerah menyadari bahwa ia tak sendiri. Aku pernah menjadi kalian. Kelak, kita akan kembali berjalan.

Tidak mudah untuk merangkai kata kembali. Waktu telah menggerogoti sisi kehidupan hingga perlahan kehilangan jiwa. Jiwa-jiwa yang haus akan rasa mulai meronta.  Setahun ini aku merasa kehilangan separuh diriku. Dulu, terkadang aku sempatkan waktu untuk sekedar menulis kata yang tak bisa aku ungkapkan atau sekedar membagi kata-kata. Namun, pencarian yang dulu mendorongku untuk lebih hidup […]


Meredam Bara

Manusia dilahirkan bersamaan dengan ego, seperti dengan kasih sayang, ego menjadi sisi lain manusia. Ketika ia merasa lapar, ego lebih dulu menguasainya, ia menyalak pada setiap kata yang terlempar, ia mengaduh pada setiap kesalahan yang tak disengaja.

Menyebutnya sebagai suatu hal yang manusiawi, memberikan pengampunan pada sebuah kesalahan lalu memberikan ruang pada dendam untuk kemudian membiarkannya menjadi tuan rumah di dalam sanubari. Sebesar itulah pengampunan manusia untuk diri sendiri, sementara amarahnya pada manusia lain akan ia biarkan tumbuh dan mengakar. Sekecil apapun amarah yang disimpan, sekecil apapun jarak yang dicipta, kelak ia akan membawa jarak beribu – […]


Es Krim

Sebuah gumaman karena hal kecil: es krim. Aku sudah tidak bisa menikmatinya lagi gara-gara perbuatan manusia.

Waktu aku kecil, aku selalu membayangkan bisa memakan es krim sebanyak yang aku mau. Bahkan aku ingin memiliki rumah yang terbuat dari es krim.  Aku menyukai es krim rasa coklat, apalagi kalau di dalamnya terdapat lelehan coklat. Aku tidak peduli dengan perkataan dokter gigi yang botak itu. Berpuluh-puluh kali ia mengatakan hal  yang sama, “Es […]


Previous page Next page