Posted by Negar Fitrian

Semesta yang Lain

Mulanya kita adalah takdir, kemudian kita terbuai dalam alur yang tak menentu, dan akhirnya menjadi pandir dengan saling tak acuh Padahal aku bersimpuh, merindu Dan kau puan yang...

Jakarta Subuh Awal Syawal

Penat kepala tak tertidur hingga larut,didoping pekat kopi 'tuk menemani bungkusan rokokCurahan hati berbagai macam anak manusia,bersatu padu dalam keluh kesah hidupHidup dalam...

Enggan Beranjak

Disumpahi jutaan kali, lantas mengakalinya lagi dengan jutaan motivasi pembangkit diri, lalu dijegal lagi oleh beribu upaya untuk mematikan tujuan yang hakiki adalah sekelumit...

Sepertiga Malam

Sepertiga malam Lelah yang bersemayam, dan bosan yang makin dalam Lantas terbayang akan masa depan yang suram Rasa syukur hanya menjadi idaman, dan kesabaran adalah...

Hiyayat

Nak, penyair hanya bisa hidup dalam mimpi, lantaran duniamu hanya menawarkan kecewa Keterbatasan puisi dan prosa adalah kenyataan Nak, penyair biasa kawin dengan...

Bercelatuk

Suntuk, kala pikiran kalang kabut Daya nalarku terkapar, buyar! Kita Aku, kamu, dan berjam-jam dialog yang kita lakukan Melibas ragam topik bahasan, jeda hanyalah helaan...

Pro Bono Publico

Hidup memang ahli dalam hal memainkan perasaan, menengok sekitar dan seakan bumi berhenti berputar menjadi senyap dalam gemerlap Coretan sejarah baru peradaban, yang bisa jadi...

Menggunjing Takdir

Seperti anjing terpanggang ekor, itulah peribahasa yang kini menggambarkan masyarakat yang kembali gamang menghadapi kenyataan Individu hingga sosial seakan belum siap untuk...

Top