Haznah Syawalani
Haznah Syawalani

Teritori Rindu

Aku termakan bualan penulis puisi yang mengatakan bahwa waktu ialah penawar sejati yang sakti. Nyatanya aku belum sembuh sampai tubuhku membeku tertimbun salju lalu mati karena dikuliti rindu.

Aku menyesap teh hijau hangat di padang salju akhir abad, menggigilku tak terasa saat kugosok telapak tangan sambil merapalkan namanya. Aku terus memandangi hari tanpa sadar bahwa dia sudah terlalu lama pergi. Laksana mimpi, ia tak akan kembali. Sayangnya, aku lupa menuliskan namanya saat kularungkan perahu kertas di danau harapan. Rapalan doaku kurang kencang. Dia […]

Haznah Syawalani 0 Comments 1 min read Continue reading

Previous page Next page