Firda Rizka Afaroh
Firda Rizka Afaroh

Catatan Lorong

Rasanya nyeri sekali bila diraba. Entah, ini penyakit apa yang aku idap. Awalnya, aku tidak terlalu takut sehingga aku memutuskan untuk tidak periksa ke dokter. Tapi, semakin lama nyeri semakin parah. Pembengkakan pun membuatku tak nyaman. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter. 

Lalu engkau datang dengan berjalan pelan, membuka pintu itu dengan tenang. Menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Tanganmu mengusap jemariku, bibirmu mengucap sesuatu, berharap aku bangun saat itu. ***  “Bagaimana hari ini?” tanyanya. Suaranya memecah keheningan lorong. Kalimatnya sederhana, tapi menjadi penghilang segala kesah.  Aku terdiam. Menghela napas.  “Tidak terlalu baik. Dapat cadangan, tapi tak […]

Firda Rizka Afaroh 0 Comments 21 min read Continue reading

Puisi-Puisi yang Dikembalikan

Kalut memang, sebab bagian paling sederhana dari kisahnya ialah doa yang mengalir tanpa diketahui oleh pemilik namanya. Sampai-sampai, ujung dari rasa sayangnya adalah mengikhlaskan. Sudah lama sekali aksara-aksaranya tak tersampaikan. Karena ia tahu, bukan dirinya yang pantas untuk mengirimkan.

Penanya akan selalu kembali pada saku Sampai akhirnya Walgitanya tak pernah diusaikan Seperti itu saja terus Tak pernah berani Tapi pandai menata hati Sampai rapi Sampai tak pernah diketahui ia pernah menangis Ikhlaskan saja rasanya Sampai letih raganya Sampai bungkam perasaannya Biarkan saja sajadahnya basah tertutup air mata Yang terpenting, ia tak lagi menaruh harap […]

Firda Rizka Afaroh One Comment 1 min read Continue reading

Previous page Next page