Anisya Nurwidya
Anisya Nurwidya

Teh Ibu

Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya. Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.

Secangkir teh yang disuguhkan ibu pagi itu, aromanya khas, memanggilku untuk singgah sementara. Ku teguk air coklat itu dan… Saat itu juga memoriku kembali ke satu titik bersamamu. Kala pertama kau beberkan tawa renyah, menyapaku. Ku yang saat itu sedang diam dengan mata yang menyusuri kota lama, kau datang, bersama ragamu yang gemilang, dengan candaan […]

Anisya Nurwidya 0 Comments 1 min read Continue reading

Senyap

Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu, namun jika dua pun terasa ragu-ragu.

Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu, namun jika dua pun terasa ragu-ragu. Aku paham jika raga siap tuk menanti, namun hati tak bisa basa basi. Terlalu durhaka kepada kenyataan. Meronta, meminta, memaksa. Kamu tahu, ketika sel-sel otak terkontaminasi oleh hati, ikut iri, lantas berlaku konotasi. Terus saja meminta satu untuk bertemu satu lainnya. Gila! […]

Anisya Nurwidya 3 Comments 1 min read Continue reading

Previous page Next page