folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Lain
Surat Kecil Tanpa Takhta
Pemilik tawadhu di ujung senja, selamat menyulam mimpi yang kau simpul sejak lama. Walau garis takdir tinggal menunggu isyarat, semoga larik-larik sajakku masih bisa kau ingat.
Audry Rhamandha comment 0 Comments access_time 1 min read

Sang Yaswanta,
Tak banyak yang aku tahu tentang kau
hanya cerita daun kering yang menjamah seluruh kata
sebab raut terlampau kusut ditangkap makna 

Pada hening aku berdiri
menjumpai kau di kala hawa dingin menusuk kulit
bersama sepatu hitam milikmu yang mendahului
tak ada yang tersisa kecuali tanya dalam benak

Menyibak dari layar ke layar lagi
mengisahkan gusar yang mengakar paling rumit
puisi pun tak lagi singgah menggores kisah
hanya luapan takjub mengaliri kerongkonganku 

Potret retro dan rekam jejak sederhanamu
buku-buku yang telah habis kau baca petang hari
serupa bentala melukiskan tintanya pada sederet awan
masih akulah si pengagum ulung tanpa mahkota, Yaswanta.

Pemilik tawadhu di ujung senja
selamat menyulam mimpi yang kau simpul sejak lama
walau garis takdir tinggal menunggu isyarat
semoga larik-larik sajakku masih bisa kau ingat

Atas namamu yang bersinar lebih terang
kutitipkan surat dari seluruh jagat negeriku yang redup.

 

Bandung, Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment