folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Rutin
Aku Tak Seistimewa Puisi Kau
Aku cemburu pada puisi kau. Yang kau pikirkan hingga rambut kau berjatuhan, kau khawatirkan hingga jemari kau gemetaran, kau rindukan hingga kau tak sudi kelelapan.
Audri Puspita Dewi comment One Comment access_time 1 min read

Aku tak seistimewa puisi kau.
Yang kau lahirkan dengan penuh cinta,
kau susui dan kau rawat hingga ia tumbuh dengan indah.

Aku tak seistimewa puisi kau.
Yang kau beri makan mereka dengan waktu tidur kau yang kurang,
atau ingatan kau tentang melahap kentang untuk sarapan.

Aku tak seistimewa puisi kau.
Yang kau namai dengan sepenuh hati,
kau berhati-hati dengannya dalam menentukan diksi dan rima.
Apakah tepat atau tidak tepat.

Aku cemburu pada puisi kau.
Yang kau pikirkan hingga rambut kau berjatuhan,
kau khawatirkan hingga jemari kau gemetaran,
kau rindukan hingga kau tak sudi kelelapan.

Aku benci pada puisi kau.
Yang senantiasa menyertai decakan bibir kau yang halus.
Terlebih saat lidah itu meminang nama favorit kau dalam puisi itu,
tetapi jelas-jelas bukan namaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment