folder Filed in Perspektif, Yang Sekarang
Sudahkah Kita Belajar untuk Ujian Selanjutnya?
Lagi dan lagi, kegagalan adalah perihal sudut pandang, juga pola pikir.
Ascencia Fike comment 0 Comments access_time 5 min read

Terkadang kita melakukan satu hal yang sama berulang-ulang, hingga kita pikir tidak mungkin kita melakukan kesalahan. Tapi, benarkah itu?

Sebagai freelancer di bidang content marketing, pekerjaanku sehari-hari (kebanyakan) adalah riset ide blog post, merumuskannya, lalu memberikan ide tersebut untuk dieksekusi oleh penulis konten. Setelah mereka selesai menulis, aku mempunyai kewajiban untuk melakukan editing dan memastikan bahwa tulisan tersebut layak dipublikasikan untuk dibaca orang.

Sudah lebih dari 6 bulan aku melakukan ini, dan seumur hidup, hobiku adalah membaca dan menulis, jadi, ya, seharusnya bukan pekerjaan yang sulit dilakukan.

Klienku berasal dari Amerika Serikat, dan website yang aku kelola berbahasa Inggris. Aku membaca setiap artikel yang dihasilkan para penulis dan aku juga menggunakan aplikasi Grammarly (aplikasi gratis untuk mengecek grammar bahasa Inggris, coba deh!).

Kesalahan grammar

Suatu pagi tiba-tiba klienku meninggalkan pesan: salah satu artikel yang ditulis oleh penulis baru kami memiliki beberapa kesalahan grammar, dan aku telah mempublikasi artikel tersebut. Kesalahannya bukan sesuatu yang jelas terlihat seperti salah tenses atau penempatan kata, melainkan kalimat yang terdengar aneh bagi native speaker.

Lalu klienku bertanya, apakah aku masih bisa dipercaya untuk mengecek artikel-artikel yang akan mereka publikasi?

Pertanyaan itu langsung mengusik kepercayaan diriku.

Aku sudah melakukan hal yang sama untuk beberapa klien sebelumnya. Tahun ini, aku membaca lebih dari 20 buku berbahasa Inggris, menonton 100% serial TV berbahasa Inggris, 80% video Youtube berbahasa Inggris, dan mendengarkan Podcast yang semuanya juga berbahasa Inggris. Setiap hari aku bekerja di depan laptopku, berbicara dengan klien dalam bahasa Inggris.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku dapat menjawab pertanyaan dari klien. Apakah aku masih bisa dipercaya untuk mengecek artikel-artikel mereka?

Mencoba jujur, aku menjawab bahwa aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa, juga menggunakan Grammarly sebagai alat bantu. Satu-satunya alasan mengapa aku bisa ‘kecolongan’ di sini, adalah bahasa Inggris bukan bahasa pertamaku.

Untungnya, klienku bisa menerima dan sangat memaklumi hal ini.

 

Bertanya-tanya

Masalah dengan klien sudah selesai, tetapi aku tetap bertanya-tanya, apakah ini batas pencapaianku? Apakah sampai di sini saja kemampuanku dapat dikembangkan? Apakah hanya sejauh ini aku bisa memberikan jasaku untuk orang lain?

Faktanya adalah kemampuanku kurang di bagian tersebut, namun apa berikutnya? Apa yang akan aku lakukan selanjutnya?

Lalu aku teringat akan sebuah teori dari sebuah buku yang aku baca setahun lalu:

Why waste time proving over and over how great you are, when you could be getting better? Why hide deficiencies instead of overcoming them? Why look for friends or partners who will just shore up your self-esteem instead of ones who will also challenge you to grow? And why seek out the tried and true, instead of experiences that will stretch you? The passion for stretching yourself and sticking to it, even (or especially) when it’s not going well, is the hallmark of the growth mindset. This is the mindset that allows people to thrive during some of the most challenging times in their lives.” – Carol S. Dweck

Jadi sebenarnya aku sudah tahu secara teori, tetapi ternyata untuk mengaplikasikannya pada kehidupanku sendiri, sangat sulit.

Butuh beberapa waktu untuk akhirnya bisa meyakinkan diriku sendiri lagi, bahwa kejadian ini hanya tanda bahwa masih ada ruang untukku. Masih ada hal-hal yang belum aku tahu di luar sana, yang bisa aku kuasai jika aku mengadopsi growth mindset.

Ujian hidup

Ada 3 hal yang dapat kusimpulkan dari pengalaman tersebut:
1. Membaca memang sangat penting dan berguna untuk kehidupan sehari-hari. Membaca berarti mendapatkan akses ke dalam pikiran sang penulis, yang seringkali mempunyai pengalaman lebih banyak dari kita. Maka dengan membaca, kita seakan-akan melewati ‘jalan pintas’, seperti mendengarkan petuah dari pendahulu kita yang telah sukses melewati jalan yang akan kita lalui.

2. Buku merupakan salah satu bahan belajar di sekolah untuk mempersiapkan diri sebelum ujian. Masalahnya, dalam hidup tidak ada pengumuman kapan dan di mana kita akan diuji, materi yang mana yang akan diuji. Kita hanya bisa membekali diri kita dengan sebanyak mungkin materi, memilah yang baik untuk kita dan masa depan, lalu menjalani hidup seperti biasa.

Ketika ujian tersebut akhirnya datang, kita mungkin lupa bahwa kita sudah tahu jawabannya. Butuh beberapa momen untuk sadar bahwa jawaban yang kita butuhkan sudah pernah kita pelajari sebelumnya. Tetapi jika kita berhasil melewati situasi tersebut dengan menggunakan jawaban atau strategi yang kita punya, lama-kelamaan strategi itu akan menjadi kebiasaan, lalu menjadi kepribadian kita.

3. Dengan tulisan ini, aku ingin membagikan esensi dari growth mindset itu sendiri. Apapun itu, dalam akademis, percintaan, relasi dengan sesama, bisnis, semuanya bisa berubah dan dipelajari asalkan kita mempunyai pola pikir yang tepat.

Seperti loop, jika keyakinan kita adalah ‘aku tidak pintar dalam A dan tidak akan pernah bisa menjadi ahli dalam A’, maka kita pasti menjadi anti terhadap A. Tetapi jika kita yakin bahwa A bisa dipelajari dan suatu hari nanti kita bisa menguasai A, kita akan berani mencoba dan berusaha untuk terus menerus mengasah skil A kita.

Menggunakan growth mindset tidaklah mudah, apalagi jika kita sudah sering dicap sebagai anak yang pintar di bidang A, tetapi tidak bisa melakukan BTatkala kita sedang berhasil di A, semua orang akan memaklumi dan berkata, ah, memang dia hebat di bidang A, padahal itu adalah hasil kerja keras kita. Sebaliknya, saat kita menemui kesulitan di A, kita akan menyalahkan dan meragukan diri sendiri.

Dengan growth mindset, kita semua berproses dan belajar meningkatkan kemampuan tanpa mengambil pusing pemberian cap dari manapun ( atau minimal tidak memberikan cap pada diri sendiri). Untuk lebih lengkapnya tentang growth mindset, kalian bisa membaca buku Mindset oleh Dr. Carol S. Dweck.

Bagi kalian yang suka membaca, teruskanlah membaca, tetapi jangan lupa untuk tetap waspada. Kesempatan untuk mengaplikasikan pelajaran dari buku-buku tersebut ada di sekitar kalian, di kehidupan sehari-hari kalian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment