ODGJ Adalah Manusia

Masih banyak dari kita yang belum sadar betul mengenai pentingnya kesehatan jiwa. Padahal, siapa saja bisa mengalaminya, entah mereka yang kaya raya, religius, atau cerdas bukan main. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Ditambah lagi, stigmatisasi gila terhadap mereka yang mengalami gangguan mental juga perlu dihilangkan. Pada 2014, pemerintah sudah menetapkan undang-undang tentang kesehatan jiwa. Di dalamnya, ada terminologi yang lebih pas, yakni Orang Dengan Masalah Kejiwaan (OMDK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Keduanya pun tidak dapat disamakan, apalagi diseragamkan menjadi orang gila.

Pusat Data dan Informasi Kemenkes 2019 menulis bahwa ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga berisiko mengalami gangguan jiwa. Sementara itu, orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang terwujud dalam beberapa gejala dan/atau perubahan perilaku yang signifikan tergolong ke dalam ODGJ. Lebih lanjut, ODGJ memiliki satu kategori turunan, yaitu gangguan jiwa berat yang membuat seseorang berhalusinasi, berilusi waham, mengalami gangguan dalam berpikir, dan bertingkah laku secara aneh. Salah satu gangguan yang termasuk ke dalam subkategori ini adalah skizofrenia.

Untuk membedakan ODMK dan ODGJ, Dokter Prianto, seorang psikiater, menyatakan bahwa Orang Dengan Masalah Kejiwaan memiliki suatu permasalahan yang berpotensi mengakibatkan gangguan jiwa. Setiap orang pun bisa mengalaminya. Kejadian-kejadian yang menyisakan trauma, seperti cerita tentang kehilangan, kegagalan, dan perundungan, mampu memicu masalah kejiwaan. Apabila masalah tersebut tidak ditangani dengan baik, ia bisa berbuah gangguan. Kata kuncinya ada pada masalah dan gangguan.

Terlepas dari semua itu, baik ODMK maupun ODGJ adalah manusia yang juga memiliki hak. Pemasungan, selain melanggar HAM, bukanlah langkah penanganan yang tepat. 

Dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2021, Menjadi Manusia bersama Karin Novilda, Ariel Tatum, Alfatih Timur, Jiemi Ardian, Avianti Armand, Ubah Stigma, dan TeamUp Manusia menginisiasi kampanye Kita Manusia untuk menyebarluaskan isu kesehatan mental sekaligus merenovasi Panti Rehabilitasi Al-Fajar Berseri, sebuah panti yang telah berdiri selama 27 tahun dan menjadi rumah bagi ODGJ. Panti di Bekasi ini didirikan oleh Pak Marsan Susanto, seorang mantan kusir delman yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat ODGJ. Kini, ada 500 ODGJ di Panti Rehabilitasi Al-Fajar Berseri yang membutuhkan bantuan kita untuk dapat memiliki tempat yang lebih aman dan layak.

Setiap detik yang bergulir adalah waktu yang paling tepat untuk peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri dan orang lain, termasuk ODGJ. Teman-teman bisa ikut berpartisipasi dalam kampanye Kita Manusia dengan menyebarkan informasi ini dan berdonasi melalui tautan berikut: bit.ly/kita-manusia.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top