folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Sekarang
Tentang Sebuah Hidup di Ruang Paling Sembunyi
Kutemukan lebih banyak kata-kata yang kau sembunyikan di rumit tumitmu, yang gemar melompat dari kenyataan pahit ke banyak sakit.
Arum Tri Cahyani comment 2 Comments access_time 1 min read

Aku hanya ingin membaca tentang apa saja yang kau tulis.
Mendengar maki yang kau ciptakan untuk bertahan.
Meski terlalu meyebalkan mencernanya sebagai amarah.

Kutemukan lebih banyak kata-kata yang
kau sembunyikan di rumit tumit mu,
yang gemar melompat dari kenyataan pahit ke banyak sakit.
Ketimbang meminta mencintaiku lebih,
aku lebih senang mencitai dengan baik.

Tentangmu belum selesai, dan tidak akan.
Kecuali seseorang datang mencuri segalanya,
sampai aku kehabisan kata-kata.
Mungkin yang tersisa hanya decit skateboard yang selalu kau bunyikan di telinga.

Tidak ada yang lebih pasti selain luka di matamu.
Meski pelupukmu tangis paling beku (karena katamu boys don’t cry).
Di dadamu sesak berlubang sebesar bulan—tidak pernah redup meski pagi baik-baik saja.

Dan kamu tetaplah kesakitan, bersembunyi hebat dalam puisi.
Tidak peduli orang-orang menguliti.
Kamu tetap abadi di ruang paling sembunyi, yang selalu ingin kubeli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment