Kita terduduk pada dua bangku. Di kafe langganan kita pada satu minggu sore yang sendu. Meja di tengah menjadi pemisah. Duduk berhadapan dengan sedikit percakapan, kita disibukkan oleh bacaan  dalam genggaman. Kau pegang novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Kucoba cerna kata-kata Nietzhe tentang eksistensialisme.

“Hati-hati baca Nietzhe, jadi atheis kau nanti,” katamu.

“Hati-hati baca Sapardi, jadi hujan kau nanti,” jawabku.

Begitulah, kalimat-kalimat absurd yang seringkali menghiasi keheningan kita. Sebagaimana petir yang  kadang muncul di antara gemuruh hujan. Atau riak-riak air pada danau yang tenang ketika daun tua pohon jati tertiup angin dan jatuh padanya.

“Lagian, kalau aku atheis, kita jadi bisa nikah, kan?”

“Sama yang beda agama aja nggak boleh, apalagi yang nggak punya agama,” jawabmu dingin.

Manusia selalu berusaha menemukan (arti) cinta. Ada yang bilang cinta itu buta. Ada yang bilang cinta itu pengorbanan. Ada yang bilang cinta itu ikatan yang membebaskan. Banyak orang bahagia karena cinta, tidak sedikit juga yang jatuh menderita. Karena cinta, beberapa orang menjelma pemberani,  ada juga yang akhirnya bunuh diri. Cinta tak hanya mempersatukan, tapi juga sering memisahkan.

Kau dan aku saling mencintai. Kita tahu, mereka juga. Namun, perbedaan tidak pernah bisa dipersatukan. Tuhan kita sama, cara kita menujunya saja yang sedikit banyak berbeda. Kulepas sandal ketika masuk ke rumah-Nya. Kaukenakan sepatu setiap kali menghadap-Nya.

“Permisi, Kak.” Perempuan berbaju hitam menyela keheningan kita yang menyenangkan. Diletakkannya dengan hati-hati, ditata dengan rapi, tiap menu yang kita pesan tadi. Secangkir kopi susu dan latte  bermotif matahari. Kita tidak pernah menentukan siapa pesan apa. Milikku, milikmu, sama saja. Karena kita sebenarnya satu yang belum bersatu. Dua scoop es krim dan sepotong roti bakar rasa nanas berbentuk segitiga ikut meramaikan suasana meja. Vas bunga dengan tiga tangkai mawar yang masih segar kini tak kesepian lagi. Diakhiri dengan ucapan basa-basi selamat menikmati, kubalas ucapan terima kasih yang (juga) sekadar tradisi.

Kau selalu heran kala melihatku makan es krim.

“Itu es krim, dingin, ngapain kamu tiup?” tanyamu sembari tertawa.

“Ini ada asapnya, siapa tau dia panas, makanya kutiup.”

“Sejak kapan es panas sih? Ada-ada aja deh.”

“Panas kan ada ‘s’ nya,” jawabku sekenanya.

“Terserah, yang penting kamu jangan atheis. Kalau masuk neraka susah, di sana panas katanya, capek nanti kamu niupin api nerakanya.”

“Kamu beragama lah yang baik, biar nanti masuk surga. Di surga nanti, katanya, semua keinginanmu terpenuhi, mintalah aku supaya dimasukkan ke surga juga.”

Kau tidak menjawab, dan memang tak perlu. Kau tersenyum kecil, mengambil pisau, memotong roti, kau tusuk dengan garpu, lalu kau masukkan kedalam rongga mulutmu. Saat itu aku tersadar, bahwa surga tidak perlu menunggu setelah kita mati. Saat ini, di sini bersamamu adalah surga. Kita nikmati kebersamaan dalam ketenangan.

Orang bergelimang harta, tapi hidupnya tak tenang. Selalu merasa terancam oleh pesaing bisnisnya. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, jalan pun gelisah. Itulah neraka. Sebaliknya, petani yang hidup di lereng gunung, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang. Tiap sore bisa duduk bersantai memandang hamparan sawah hijau. Hatinya sesejuk udaranya. Itulah surga.

Nietzhe bilang, “Hell is other people,” orang lain adalah neraka. Ah, dia benar setengah, orang lain juga bisa jadi surga, kan? Atau bisa jadi dua-duanya, kadang surga kadang neraka, kan? Tergantung bagaimana kita bersikap, kan? Saat ini, bersamaamu adalah surga, kan? Tapi mungkin saja di masa yang akan datang nanti, memori tentang saat ini akan menjadi neraka bagi kita, siapa yang tahu, kan?

Kau semakin tenggelam dalam bacaanmu. Sesekali kau angkat cangkir dengan tangan kananmu yang lentik, kauantar menuju bibirmu yang manis, tanpa sekalipun melepas pandangan dari susunan kata-kata indah yang berbaris rapi dalam bukumu. Kemudian kau tersenyum, kadang tertawa kecil, tapi tidak pernah sampai terbahak. Aku pun berpesan padamu, “Kalau tertawa bagi-bagi, kalau sendiri nanti  dikira nggak waras.”

“Nggak waras juga kau mau,” katamu sambil kau julurkan sedikit lidahmu setelahnya, “Lucu ya si Sarwono ini kalau cemburu. Kamu nanti kubikin cemburu juga, biar kayak Sarwono.”

“Silakan, kalaupun berhasil kamu nggak bakal tahu,” jawabku sekenanya.

Kopi kita tinggal separuh, es krim yang tersisa sudah meleleh memenuhi dasar piring saji. Roti tersisa sepotong, artinya ini bagianku. Kau tidak pernah mau mengambil potongan terakhir. Padahal, yang terakhir itu merupakan potongan paling nikmat ke dua setelah potongan pertama.

Banyak sekali perbedaan di antara kita. Yang membuat tetap bisa bersama adalah karena kau dan aku tidak pernah memikirkan perbedaan itu. Perbedaan bukan masalah. Masalah adalah apa yang kita anggap masalah, kalau tidak kita anggap, maka itu bukan. Quotes yang sangat aku suka dari Jack Sparrow.

Aku masih ingat jelas yang kau katakan waktu aku menyatakan perasaanku, “Dalam sebuah hubungan, komunikasi memang penting. Tapi di jaman sekarang ini, ketika komunikasi menjadi semakin mudah, kita menjadi gampang sekali tahu banyak akan sesuatu. Ketika itu terjadi, kita akan semakin banyak melihat bahwa di balik persamaan yang kita miliki, tersembunyi banyak sekali perbedaan. Ketika perbedaan ini yang menjadi fokus pembicaraan, maka yang timbul adalah masalah-masalah baru yang sebelumnya tidak ada, dan sebenarnya tidak perlu ada.

“Aku pun menyukaimu, di dekatmu aku nyaman. Mari kita bersama dalam sunyi. Aku tidak suka terlalu banyak bicara. Jikalau nanti kita jalan berdua, cukup keberadaan masing-masing kita saja yang utama. Bersama membaca buku-buku kita, mungkin sesekali bercakap tentang hal-hal tidak penting. Aku sadar, dan kau pasti juga, kalau kita begitu berbeda, kecuali dalam cinta.”

“Kau mengutip puisi Soe Hok Gie dalam kalimat terkahirmu, kan? Baiklah aku setuju.”

Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Tapi aku masih ingat tiap kata yang terucap dari mulutmu, seperti baru kemarin rasanya. Tetes terakhir kopi masuk juga ke mulutku. Kita masih betah berlama-lama menikmati suasana. Tapi ini sudah setengah lima sore, aku harus segera mengantarmu ke gereja.

“Nggak ikut masuk?” Tanyamu sembari turun dari motor di parkiran gereja.

“Nggak ah, nanti kalau pas kalian nyanyi aku malah adzan kan bahaya.”

“Ya siap-siap dibaptis aja kalau berani gitu,” katamu bercanda, “Ya sudah, mau nunggu di mana?”

“Di masjid sebelah aja, sekalian sholat. Paling kau sampai habis magrib baru selesai kan? Nanti chat aja kalau sudah selesai.”

“Oh, belum atheis? Alhamdulilah….” kau berkata lirih di depan wajahku.

Berbisik aku di dekat telingamu, “Kalau Tuhan aja sampai aku tinggalin, apalagi kamu nanti.”

Kau diam sejenak, memandangku dalam, tersenyum kecil, kemudian berpaling. Aku pun pergi. Waktu berlalu, kita masih berbeda, sedang kau dan aku akan tetap bersama. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment