Mendengar Ombak Tua

“kedua kakimu tersentak, untuk berdiri sejenak

berlari pada tubuhku, mengharap waktu berlalu”

Ombak Tua-Figura Renata

Aku berlari pada tubuh yang mengharap waktu berlalu, basah menyentuh kalbu, aku adalah lautan luas yang terus terjamah, aku adalah dermaga tempat perahu bersandar, aku adalah asin laut yang menolak pelukan sepasang batu karang. Aku laut biru yang terus kau jadikan latar foto—untuk kau simpan sebagai ingatan atas waktu yang kau lalui.

Aku terombang ambing di lepas pantai; sendiri. Mencari jejak-jekak kakimu, memungut satu per satu ingatan yang jatuh di pantai itu, tubuhku berhenti, basah dan kedinginan dipukul angin, dihempas ombak; sendiri.

Kedua kakiku tertahan untuk melangkah, aku mengenangmu sebagai satu-satunya pelampung yang menyelamatkanku dari sesal dan rasa bersalah. Aku terombang-ambing di sini, menyaksikan matahari tenggelam tak berwarna, sebab kau adalah warna yang menghiasinya. 

Aku menguburkan sebagian tubuhku di tepi pantai ini. Jika pada akhirnya kau kembali, berziarahlah di sini, peluk batu karang yang menjadi nisan atas sebagian tubuhku, dekaplah dengan erat, bicaralah, aku mendengarkanmu seperti suara ombak tua yang berulang-ulang kudengar. 

Pulanglah setelah matahari yang tak berwarna itu tenggelam. Ombak tua pada malam hari akan mengjagaku dari pelukan yang lain. Dari semua sesal, dari gigil malam, dari pukulan angin, dari hempasan ombak, terjagalah kau dari segala cuaca.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top