Memeluk Diri Sendiri

Akhir-akhir ini saya merasa sedang begitu lelah menghadapi rutinitas dalam hidup—saya menjadi penyendiri ulung, menikmati seduhan kopi sendiri di sebuah kedai yang selalu saya kunjungi, menghabiskan waktu berjam-jam di sana, sambil mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terus mengalir setiap waktu. Kadang-kadang menulis sesuatu yang kerap kali tiba-tiba muncul di kepala saya. 

Medium terbaik untuk saya bicara adalah dengan menulis hal-hal yang ada di kepala saya. Saya memang memilih jalan itu sebagai teman terbaik sejauh ini. Paling tidak saya tidak menambah beban hidup orang lain—karena tentu saja, semua hal yang hidup dan bertumbuh punya pergolakan batin di dalam dirinya masing-masing.

Kau tahu, mereka yang mendengar kisah-kisahmu tidak benar-benar menyelamatkanmu dari rasa apa pun yang kau alami, ia lebih penasaran atas hal itu.  Paling tidak, dengan menulis hal-hal remeh ini, saya bisa menyelamatkan diri saya sendiri—saya sedang berusaha untuk memeluk diri saya sendiri, sebelum pada akhirnya pelukan hangat itu tentu saja datang mendekap.

Saya selalu membayangkan semesta ini sejenak berhenti berputar—saya atau barangkali juga diri yang lain di luar sana—yang sedang membaca tulisan ini terlalu lelah dengan arus yang tak pernah berhenti menghantam. Kabar buruk datang terus-menerus—kabar baik yang sering kali dimaknai sebagai keburukan. Kemarahan yang terus bertumbuh, rasa sedih yang kerap memelukmu pada malam-malam yang hening.

Tidak ada satu pun manusia di bawah kolong langit ini yang terbentuk tanpa memiliki keresahan-keresahan ihwal kehidupan yang sedang dilalui kini. Selalu saja ada terpaan badai yang datang bertamu, tentang kisah cinta, masa depan yang masih diraba-raba, nasib orang tua yang terus menua, dan rutinitas-rutinitas yang membuatmu terkapar di tempat tidur. Tetapi sekali lagi, semua hal itu mengganggu tidur lelapmu. Badai itu tidak akan pernah berhenti datang—ia kadang-kadang hanya menjelma matahari pagi pukul setengah enam.

Terkadang kebahagian adalah bahasa lain dari kesedihan. Kau tak perlu terlalu larut di sana—masih begitu banyak fase kesedihan dalam hidup ini yang akan terus dihadapi. Belajarlah memeluk diri sendiri sebelum pada akhirnya memeluk diri yang lain—yang tentu saja mengasihi sepanjang waktu, yang mengasihimu tanpa lelah, yang mencintaimu setulus dia mencintai dirinya sendiri. Peluk erat; diri sendiri.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Arif Hukmifebtyrahayu Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
febtyrahayu
Guest
febtyrahayu

Keren asli:”) mewakili diri saya sekali

Arif Hukmi
Guest

Terima kasih, yah. Tetap tumbuh!

Top