Apa yang Ingin Kau Sampaikan kepada Ayah?

Pertama kali saya mengenal sosok Ayah adalah ketika saya masih berusia lima tahun. Di kala itu, saya tidak paham betul apa makna dari kata Ayah tersendiri, apa yang sedang saya lakukan, kehidupan yang sedang saya jalani, maupun rencana untuk hari-hari berikutnya. Yang saya tahu, saya harus belajar, bermain, makan, dan menghabiskan waktu liburan bersama Ayah. Masih terdengar asing ketika mendengar kata Ayah di kala itu. Saya pikir, Ayah adalah sebutan untuk anggota keluarga yang tidak dekat atau tidak memiliki ikatan yang begitu kuat. Ternyata, ada banyak makna yang tersimpan di balik sebutan Ayah

Ada beberapa waktu di mana kami tak sempat bertemu, tak sempat menghabiskan waktu bersama. Adakala saya mencari-cari apa yang bisa saya lakukan untuk menarik perhatian Ayah agar beliau datang ke rumah, sebatas bertemu sapa lalu kembali pulang. Dan, ketika saya menginjakkan kaki di bangku SMA, tepatnya pada tahun ketiga, untuk pertama kalinya kami saling menyakiti satu sama lain.

Sembari menulis pesan ini, saya hanya dapat terkekeh dan menggelengkan kepala dengan terheran-heran. Saya mengingat saat pundak sudah tak kuasa menahan berat beban yang harus saya pikul. Namun, lagi-lagi, saya hanya memikirkan diri saya sendiri. 

Tak pernah sekali pun terlintas di benak saya mengenai apa yang Ayah saya rasakan di kala itu.

Apa yang Ayah saya rasakan ketika harus menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa dapat bertemu dengan anak pertamanya, yang pada saat itu masih berusia kurang dari satu tahun? Tentu, saya tak akan menutupi betapa kecewanya saya saat mengetahui kami harus saling memberi jarak dan sosok yang sangat saya butuhkan hanya dapat saya jumpai sesekali dalam setahun.

Kami saling melukai satu sama lain. Kami kehabisan waktu untuk menyembuhkan luka yang kami tanam sejak saya lahir.

Teruntuk Ayah, yang sosoknya selalu kunantikan, 

anakmu tidak dapat memeluk maupun dipeluk. Anakmu sangat canggung ketika harus memberikan afeksi untuk orang-orang yang dekat dengannya. Namun, anakmu tak pernah sekali pun mengelak ketika engkau membuka kedua tanganmu dan memeluknya dengan erat. Anakmu masih ingat betapa hangatnya pelukan yang selalu kau beri. Anakmu rindu dengan pelukanmu, anakmu rindu dengan sosokmu. 

Afeksi terakhir yang ia berikan adalah ketika bukan engkau yang menjemputnya dan menghantarkannya untuk beristirahat, namun sebaliknya. Ketika engkau terbaring dan tersenyum, kerutan di wajahmu menunjukkan bahwa engkau sudah lepas dari segala hiruk pikuk kehidupan yang selama ini kau pikul sendirian. Dan, anakmu, memberikan satu kecupan di keningmu untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.

Jika diberi satu lagi kesempatan terakhir untuk berjumpa denganmu, anakmu ini akan menolak pelukan yang akan kau berikan. Sebaliknya, ia ingin merebut rekormu sebagai orang yang paling sering memeluk sebelum dipeluk. Tidak ada yang ingin ia pinta selain itu. 

Teruntuk Ayah, yang sosoknya selalu kunantikan, 

Selamat Hari Ayah.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top