Satu Hari dengan Diri Sendiri

Lahir dengan tangisan, menjajaki dunia dengan irisan

Mengukur seberapa tangguh menggambar luka

Seberapa keras berteriak dengan tawa

Berkawan dengan hati-hati

Bersahabat dengan sendiri

Setelah kepulanganku dari dunia yang lalu, menjadi kosong dan tak berisi adalah caraku untuk mengakhiri. Tidak ada tangis yang menghias di sudut mata, juga tawa yang terpahat di atas bibir. Aku seolah patung yang sedang berjalan, menggambari tubuh dengan tinta keputusasaan, mewarnai hidup dengan biru yang tak bersuara.

Diriku, hari ini, dan segala yang kubiarkan menghilang. Tidak ada yang perlu dipertahankan apabila waktu memaksa untuk melepaskan. Meski perjalanan begitu kosong, tanpa sapa dan pemberi tawa, hidup akan tetap hidup. Mereka akan berjalan mengikuti rotasi bumi, mengalir mengikuti arus air, dan bergerak sebagaimana mestinya. Meski tanpa nama yang mengisi, hari ini tetap berharga untuk diri sendiri.

Jalan yang patah dan roboh bukanlah penanda bahwa hari ini berakhir begitu saja. Segala hal tidak selalu berjalan sesuai tujuan. Perlu beribu air mata yang disumbangkan untuk menutup luka, meski tak sepenuhnya tertutup sempurna. Tetap saja, bertahan adalah alasan. Manusia lahir dengan air mata, tidak perlu menjadi tangguh dan berpura-pura tertawa tanpa pernah menangisi kehidupan.

Dengan sederhana kuucapkan, kepulanganku dari dunia yang lalu telah membawaku pada titik aku menjadi diri sendiri; mencintai diri sendiri, menghidupi diri sendiri, dan segala yang kusebut sebagai kesendirian tak selalu bermakna kesedihan. Menjadi sendiri adalah cara terbaik mengenal diri sendiri, untuk menjajaki kehidupan dengan sejujur-jujurnya.

Meski sudah berlalu, yang kusebut dunia akan tetap menjadi dunia di kehidupan sebelumnya. Namun, hari ini, duniaku adalah aku.

4.9 13 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
fitri
fitri
1 day ago

suka

Top