Candala

Ini tentang kisah; rentetan amarah. Yang menciptakan lengah. Juga harapan-harapan yang gagal akan keniscayaan.

 

Pagi sebelum aku dipaksa mati, secangkir teh tanpa gula menggelinjang masuk ke dalam tenggorokanku yang kering. Ditemani kidung sendu tempo dulu. Mungkin bagi sebagian orang meneguk teh kala pagi kurang mengasyikkan, dan kerap kali mereka menyodorkan pertanyaan

“’Bagaimana dengan kopi tanpa gula kala pagi? Bukankah lebih pekat dan lebih nikmat?”

Aku tak mengerti, sebenarnya apa yang membuat mereka lebih menyukai kopi pekat dibanding teh tanpa gula? Dalam bahasa jawa disebut “ampang”. Yang berarti tak berasa.

Lalu apa alasan mereka menjadikan kopi pekat sebagai perumpamaan akan kehidupan? Jika aku sendiri saja tak pernah merasakan apa-apa dalam kehidupanku. Mati rasa, ampang.

Masih kuteguk teh itu sembari bergumul dengan pikiranku sendiri mengenai makna hidup. Tak ada yang salah ataupun benar, mengenai makna hidup yang diumpamakan secangkir teh ataupun kopi. Karena keduanya sama-sama memiliki ampas yang lebih mirip dengan manusia.

Selalu terbuang jika tak lagi dibutuhkan.

Aku mulai beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasanya, duduk di depan teras rumah, menatap kosong semburat surya kala pagi. Mataku tak ingin henti menatap gadis kecil yang digendong mesra oleh ibunya. Hidungnya yang mancung, kulit kuning langsat, juga mata yang sendu. Sama persis dengan seseorang yang telah tiada dengan keadaan sempurna.

Kenangan itu bertamu kembali. Tanpa mengetuk pintu kesadaran. Wajar saja, karena manusia bukanlah sebuah perangkat lunak yang memiliki fitur “hapus” di setiap datanya.

Setahun berlalu sejak aku mati untuk pertama kalinya. Kala semesta mengutukku tanpa ampun. Aku ditumpahi tuduhan, paksaan, hinaan, juga dihujani hukuman.

Apalagi yang bisa kuharapkan? Jika aku hanyalah seorang perempuan.

Aku terbunuh di dalam gedung usang dan lembab. Ruang kosong yang berhiaskan sarang laba-laba dan kursi berkarat. Juga debu yang menyirami setiap hembusan nafas. Aku mati dalam keadaan hidup. Namun aku hidup layaknya orang mati.

Lelaki itu tersenyum bodoh melihatku tersungkur di lantai yang penuh debu dan kotoran tikus. Ruang ini semakin samar dan tak lagi kulihat warna kelabunya.

Aku adalah rumah. Adalah napas. Adalah bentala dari raga yang tumbuh di dalam rahimku. Namun mereka tak membiarkanku hidup sebagaimana mestinya. Mereka mengotori raga yang tumbuh di dalam rahimku dengan pertanyaan sekaligus bualan.

“Kasihan, anak itu sudah yatim sedari lahir.”

Tidak. Mereka tak pernah mengasihani. Mereka hanya membual. Raut wajahnya, nada bicaranya, bahkan sorot matanya sama sekali tak menunjukkan rasa iba. Mereka tak pernah mengasihani. Tak pernah.

Memang benar adanya. Raga yang sedang menjadikanku rumahnya tak memiliki pohon rindang. Cukup aku yang meneduhinya. Hanya aku.

Tak peduli seberapa sering mereka menghakimiku dengan seribu kalimat umpatan. Aku sadar, mereka berperan layaknya seorang hakim, jaksa, bahkan aparat. Menghukumku secara berkala, dan bergilir. Sepahit apapun peristiwa yang pernah kulalui aku tetaplah perempuan yang masih memiliki nilai diri. Mengapa mereka tak memahami itu?

Mengapa mereka memberi tatapan kotor terhadapku?

Aku adalah korban dari lacurnya otak telanjang.

Apalagi yang mampu kuucapkan? Jika aku hanyalah seorang perempuan.

Sembilan bulan telah berlalu begitu singkat, hari ini seseorang telah lahir di dunia. Anehnya sedari tadi aku tak mendengar tangisan kecil darinya, aku tak mampu mendengarnya. Aku tak mampu melihatnya menghirup udara untuk pertama kalinya.

Aku kembali mati rasa. Sama seperti setahun lalu, gelap dan sesak.

Lambat laun aku mulai memahami, bahwa ia telah tiada dengan cara sempurna. Tanpa mendengar sumpah serapah dari mereka-mereka yang hilang kemanusiaannya. Ia tak akan tumbuh bersama bentala yang mulai poranda. Juga tak akan tinggal di rumah yang tak memililki pohon rindang.

Semesta cukup adil kepadamu, nak.

Setelah mengorek kembali kenangan kusut itu, aku kembali beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasanya.

Duduk di depan teras. Menatap kososng semburat surya kala pagi. Dan membuka kembali kenangan yang membuatku mati rasa.

Sebenarnya, aku telah lama mati dan bersiap mengubur diri. Namun semesta tak memberi izin, agar aku terus membasahi pagiku dengan kalimat;

Di mana keadilan? Di mana harapan? Di mana kebahagiaan? Jika aku hanyalah seorang perempuan.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Fareshaselvy Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
selvy
Guest
selvy

susah yah jadi manusia, apalagi kalau kita perempuan. aku ngerasain ini baru2 ini

Faresha
Guest

Pesannya sangat tersampaikan. Pahit tapi dibungkus dengan ciamik. Ini masih jadi realita, makanya aku merasa sedih ketika baca. Tapi aku bersyukur sudah bertambah orang yang mau menyuarakannya, jadi, terima kasih banyak atas tulisannya 🙂

Top