Surat Terbuka buat Bapak

Sudah lama sebetulnya saya ingin menuliskan ini. Namun selalu bingung, kalimat apakah gerangan yang mampu memantik terungkapnya kisah-kisahmu yang telah begitu lama ingin saya ketik? Mungkin, ini bukanlah awalan surat paling berkesan yang pernah engkau temui. Akan tetapi, perlu engkau ketahui, menumpahkan perjalanan panjang ini dalam selarik halaman surat bukanlah hal mudah, ditujukan kepadamu apalagi.

Telah lebih dari dua puluh tahun saya menjadi saksimu. Adakah hal bermakna lain yang telah saya lakukan untukmu lebih dari itu?

Menjadi salah satu yang terdampak getirnya masa orba, engkau menjadi salah satu yang ter-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) saat baru setahun saya terlahir ke dunia. Kembali engkau di tanah kelahiran, meninggalkan rimba kota penyangga ibu kota, menjajal lakon lain yang bisa engkau jalani. Pedagang, buruh, pengrajin gerabah, penyiar, presenter, penjual bawang merah–kacang panggang–kopi–apa pun itu, bahkan saya pun–mungkin–luput buat menyebutkannya satu per satu.

Tak pernah saya lupa kebiasaan setiap sore kala dulu: menantimu sambil bermain di halaman rumah, akan berbalik, berlari, dan memanggil kencang-kencang namamu saat suara mesin motor yang begitu familier di telinga saya terdengar. Masih sangat ingat pula saya pada suatu hari di mana: telah lantang namamu saya panggil, tapi yang terduduk di atas motor itu bukan engkau.

“Mana Bapak? Yeee, bukan Bapak…!” Begitu paman itu meledek. Kecelakaan yang ia ceritakan, menjadikan saya anak paling pendiam sedunia. Tak hanya sekali, saya–selalu–hanya bisa diam kala melihatmu terbaring lemah. Padahal dalam kerumunan orang-orang yang hanya bisa saya pandangi punggungnya itu, nama saya yang pertama kali engkau sebut lirih-lirih.

Suatu masa engkau pernah menjadikan kerenyahan suara menjadi sumber penghidupan yang utama. Setiap mendengar suaramu mengudara lewat radio hitam di ruang tengah, saya merasa senang: mengetuk-ngetuknya sambil memanggil-manggil, “Bapaaak! Bapaaak!” mencari-cari celah radio, berharap bisa mengintipmu dan membantumu keluar dari benda kecil itu. Bahkan saya hanya melihatmu seminggu sekali, selebihnya, saya hanyalah pendengar biasa sebagaimana pendengar-pendengarmu di luar sana.

Saat saya belum mengerti bahwa hidup harus terbiasa memikul batu-batu, sering saya menyalahkanmu atas segala kesulitan yang saya hadapi. Berbagai pertanyaan kerap menyelinap. Kenapa saya harus susah payah bersepeda sekian kilometer, berpacu dengan jadwal kedatangan bus–menghabiskan sebagian banyak waktu hanya untuk menunggunya, dan menghadapi sadisnya guru piket setiap pagi padahal yang menghendaki saya sekolah di sana adalah bapak? Kenapa tidak bapak saja yang mengantar saya setiap hari, seperti yang dilakukan orang tua-orang tua lain? Kenapa bapak sering tak membiarkan saya melakukan yang saya suka? Fokus belajar, begitu kata bapak berulang kali. Namun, kenapa bapak sering tak memenuhi yang saya butuhkan? Kenapa bapak tidak selalu ada buat saya? Sering saya merasa berjuang sendiri, Pak. Kenapa bapak harus membuat saya memikirkan masalah yang tidak dipikirkan anak lain seusia saya? Kenapa Pak? Kenapa dan hanya kenapa yang memenuhi kepala saya.

Di atas motor–yang lebih layak menjadi penghuni gudang itu–engkau terus menerangkan: sabar dan ikhlas adalah napas, kita jauh lebih beruntung dari yang kita pikirkan, masih ada yang lebih kurang, masih ada yang harus terus disyukuri. Mendengar setiap kalimatmu, saya justru semakin tak bisa berhenti menangis. Tak akan pernah lupa saya bagaimana caramu memberi nasihat. Masih dengan sisa-sisa rasa kecewa, di balik punggungmu, jauh di lubuk hati saya sebenarnya sadar, engkau adalah orang yang seharusnya paling merasa bingung. Siapa lagi yang engkau tuju saat semua orang menuntutmu ini-itu? Di manakah engkau bersandar saat yang bisa kami lakukan hanya menangis dan mendekapmu kencang-kencang? Bagaimana bisa saya tak pernah mendengarmu mengeluh, Pak? Pernahkan engkau merasa tak sanggup menghadapi dunia ini? Betapa saya tidak tahu diri. Betapa seharusnya saya takjub dan bertanya-tanya, terbuat dari apakah hati seorang bapak?

Menyaksikanmu tak pulang-pulang hingga larut malam, menyaksikanmu menuntun motor hingga belasan kilometer akibat kehabisan bensin, mengingat bahwa kepada saya lembar-lembar uang terakhir kau berikan agar saya bisa berangkat sekolah, membuat saya tidak lagi bertanya kenapa dan tak lagi punya alasan untuk mengeluhkan apa pun yang saya hadapi. Di hari itu, ataupun setelah-setelahnya.

Bagaimana mungkin saya tidak merasa takut saat engkau dikerumuni sanak-saudara dan tetangga petang itu. Memanggil-manggilmu, “Kang… Kang… astaghfirullah, Kang,” tapi tak ada sahutan. Pun saat mamak menepuk-nepuk wajahmu. Segala bayangan di kepala membuat air mata saya mengalir perlahan. Bisik saya waktu itu, “Allah… saya belum wisuda.”

Saya menyalahkan diri saya karena selalu menunda-nunda pekerjaan untuk membantu mamak dengan alasan capai atau sibuk menyelesaikan pekerjaan saya; membiarkan seluruh piring dan gelas kotor selalu disentuhmu lebih cepat. Di sisa-sisa lelah sehabis bekerja saja selalu engkau sempatkan untuk membantu mamak. Betapa tidak bergunanya saya. Bukankah jika demikian, sayalah yang membuatmu jadi sedemikian kelelahan hingga jatuh tak sadar?

Segalanya berjalan begitu cepat kemudian. Ambulans membawamu bersama mamak, meninggalkan saya dan adik–yang tak henti-hentinya menangis dan menyebut-nyebutmu. Seketika malam itu, hujan turun deras dan banjir. Ketakutan itu terasa semakin nyata. Namun ternyata, masih Dia izinkan engkau membersamai kami. Dan lagi-lagi, kalimat yang pertama kali engkau katakan ketika sadar, menyelinap lemah di sela-sela selang oksigen, “Ini di mana? Ayo pulang. Rini gimana berangkat ke kampusnya?”

Memberimu surat undangan wisuda sambil bilang, “Duduknya enggak sama teman-teman prodi yang lain ya, Pak. Beda tribun. Ada khusus, menghadap ke panggung. Ini ada nomornya,” merupakan sebuah kelegaan tersendiri. Mungkin, waktu kelulusan saya tidak ideal sebagaimana teman-teman lain. Bahkan mungkin, engkau juga pernah gelisah karenanya. Namun barangkali, itulah kesempatan yang Allah kasih buat saya agar membuatmu bisa sedikit merasa bangga. Iya, mohon maaf, hanya sedikit.

Apa yang saya saksikan kepadamu jauh lebih banyak dan panjang dari yang hanya sekadar saya tulis. Pada akhirnya, Dialah yang menjawab segala pertanyaan-pertanyaan tak tersampaikan “kenapa” itu lewat serangkaian berbagai peristiwa; membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa yang telah terjadi adalah takdir terbaik yang saya dapatkan. Tidak akan pernah menjadi seperti ini saya tanpa begitu. Dan saya bersyukur atas diri saya yang sekarang. Berkatmu, Pak.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Aksana Fatmainna Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Aksana Fatmainna
Guest
Aksana Fatmainna

Selalu terharu dengan tulisan-tulisan dari
menjadimanusia.id

Top