Membaca Sekitar

Pada Ayyub aku belajar:

Bahwa terkadang, manusia melupakan bahagia yang telah bertahun-tahun dirasa karena kesementaraan coba. Saat istrinya bilang, “Mintalah kesembuhan, tentu akan dikabulkan karena engkau manusia pilihan.” Ia menolak tenang, “Telah lama aku hidup senang, nanti jika deritaku telah sama dengan senangku, baru aku minta yang demikian.”

Pun pada sepasang renta yang duduk di sepetak serambi, aku belajar:

Hidup hanyalah perputaran menanti, menyambut, melepas, dan menanti lagi. Masih lekat di ingatan, demi menyambut semata wayang, banyak usaha dilakukan. Doa yang dirapalkan pun tak kalah panjang. Namun seperti baru semalam sukacita dirayakan, mereka harus berdiri di garis penantian lagi. Sambil harap-harap cemas, kalau-kalau kesayangannya tak lagi kembali tahun ini karena tenggelam dengan kebahagiaannya sendiri.

Sedemikian redup hidup karena sungkawa. Namun, tak pernah lega napas, meski senantiasa diliputi sentosa. Sedemikian bising kuping oleh kabar bahagia saudara seiring. Namun, pada setiap derita yang dirasa orang lain selalu asing.

Maka bertanyalah seluruh makhluk, sebab apakah manusia sulit bahagia?

Lalu semut mulai kasak-kusuk. Jawabnya; barangkali karena manusia terlalu gampang kecewa. Pada suatu sore saat membuka penutup saji contohnya. Saat yang terhidang tak sesuai keinginan, tunggang-langgang sekumpulan mereka oleh gelegar suara keluhan. Berkatalah semut pada yang lain, “Memangnya kurang apa ini makanan?”

Lalu pohon ikut mengutarakan. Dugaannya, barangkali karena manusia selalu merasa paling menderita. Saudaranya yang telah menjadi lembaran-lembaran tisu yang memberi tahu. Pada setiap air mata yang diusap, terdapat ratap yang tak henti-henti diucap. Si tisu merasa tak dianggap lalu mengungkap, “Kau memilih tenggelam dalam pilu, hingga tak menyadari kehadiranku. Padahal yang menghapus segala tangismu adalah aku.”

Lalu tanah tak kalah lantang memberi kesaksian. Katanya, barangkali karena standar bahagia manusia tak sederhana. Susah payah si tanah bersolek, memperindang diri dengan berbagai jenis pepohonan, tanaman, dan buah-buahan. Tanah pikir, semua itu sudah cukup menentramkan, tapi manusia menawar. Dipangkasi tanaman, demi mendirikan bongkahan-bongkahan bangunan. Si tanah mempertanyakan, “Sudah cukup membahagiakan?” – jawab manusia, “Masih butuh sedikit kerlipan.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top