Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu.

Meski semua persepsi yang terpoles ayu dalam memoriku hanyalah nyanyian  dari bibir kering yang melantur halu. Kita tak pernah terduduk di atas kursi yang sama pada nyatanya. Kita adalah individu-individu yang duduk sendiri-sendiri, tak pernah saling mengisi walau melontar sapa pemecah sepi, apalagi basa-basi. Membungkam naluri, saling memunggungi. Engkau sibuk menikmati ritme denyut nadimu sendiri, begitu pun aku.

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu.

Lewat pesan tak bersuara yang disampaikan sepasang netra. Menyorot tajam, menghujam perasaan. Dilumuri kuluman senyum atau anggukan kadang. Sejenak, tapi mampu membuat benih renjana beranak pinak. Kau tak pernah tahu bagaimana bias semu itu meracun kalbu. Ingin menaburi biji mata itu dengan bubuk mrica agar tak ada lagi waktu-waktu lain yang lumpuh sementara. Karena saat fokus kita beradu, mendadak kehidupan dunia terjeda. Ah… lagi-lagi, mungkin ini hanyalah akibat dari suara hati dan nafsu yang terus berdebat. Ingin sekali kuberteriak, shut up!

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu.

Pada satu terik di pinggir bengawan, dilatarbelakangi suara ricik sumbang kerumunan, untuk pertamakalinya kau kirimkan pertanyaan, “Dek, kamu… ada sandal?”

“Enggak, mas,” jawabku terus terang.

“Aku juga enggak e,” sahutmu sambil melirik setengah badanku yang basah. Gerakan bola matamu membuatku berasumsi bahwa kau sedang dalam mode resah. Namun logikaku menghempaskan asumsi itu kuat-kuat dan berkata: bukankah lumrah?

“Nggak apa-apa, mas… aku pake ini.”

“Sepatumu basah itu, lho…” tegasmu tak mendiamkan ‘ketidak-apa-apaanku’.

“Nggak apa-apa, mas.” Sahutku lagi. Kau pun menyerah. Sepertinya, jawaban itu memang jawaban mujarab yang tak bisa dibantah. Membuat orang lain tak memiliki pilihan selain mendiamkan, padahal begitu mengesalkan.

Sebuah kesempatan bersejarah, bukan? Untuk pertama kalinya kita terlibat dalam sebuah dialog. Pertama, dan terakhir sebelum kita terpisahkan ruang dan kenyataan.

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu.

Bahkan aku tak mempercayai indra penglihatanku sendiri saat tiba-tiba bayanganmu muncul lagi. Sangat samar, karena keterbatasan jarak pandang. Namun sepasang mata di balik topi itu menjelaskan semua: tak ada orang lain yang melihatku seperti itu kecuali kamu. Seakan ada kabar yang ingin kau sampaikan. Ada keresahaan yang ingin kau utarakan. Ada sudut pandang baru yang ingin kau bagikan.

Lagi-lagi, ini hanya asumsi sialan.

Aku seperti telah mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun lalu.

Khayalan ini terlalu berlebihan, mari akhiri. Jangan tahan apapun, jangan dahului takdir dalam keadaan bagaimana pun. Biarlah yang terbang bebas, tetap terbang. Biarlah yang mengalir deras, tetap mengalir. Biarlah semesta yang menghubungkan semua yang telah terukir. Langit lebih tahu kapan setitik air hujan menyapa tanah yang gersang. Bukankah kita telah sama-sama terbiasa untuk melepas apa yang tidak pantas? Namun apabila waktu mengizinkan asumsi-asumsi ini terbukti, kisah ini adalah yang akan kugaungkan pada dunia pertama kali. Bahwa melalui diam dan menahan, semua cerita ini berawal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment