Bukan Tata Cara Merawat Luka (Sebuah Introspeksi)

Dulu saya kira, mengubur luka dan membiarkannya terpasung dalam “ruang tergelap diri” adalah keputusan tepat. Saya hanya cukup diam saat orang lain berlaku sewenang-wenang, atau cukup melupakan saat kenyataan tak sesuai harapan. Namun ternyata, semua itu justru akan memperparah keadaan jika tidak dikelola dengan baik. Ia bisa bertransformasi menjadi perilaku yang tidak tepat dan terlampias pada orang yang tak seharusnya. Setidaknya, begitulah yang kerap saya dengar dari para ahli jiwa.

Terjawablah keterheranan saya; mengapa selama ini saya kurang bisa mengontrol emosi jika berada di tengah-tengah keluarga. Hal-hal yang sebetulnya biasa saja jika dilakukan orang lain, akan membuat saya tersulut jika dilakukan keluarga sendiri. Tak lain karena emosi itu telah diboncengi oleh emosi-emosi yang sebetulnya disebabkan oleh orang lain. Menyadari hal itu membuat saya kian merasa sedih. Merasa gagal menjadi anak yang berbakti dan kakak yang baik. Merasa bahwa kebaikan yang saya lakukan pada orang-orang sekitar sia-sia karena pada keluarga, berlaku sebaliknya. Membayangkan jika sisi ini saya perlihatkan di depan teman-teman saya; akankah masih ada yang mengatakan bahwa saya baik, mengaku senang saat berada di dekat saya, atau masih mau berteman dengan saya?

Diingat-ingat lagi, pertama kali saya meluapkan amarah secara terang-terangan di luar lingkungan keluarga adalah ketika duduk di bangku kelas enam SD. Di masa-masa itu, terdapat seorang siswa laki-laki yang paling ditakuti di kelas, bahkan ditakuti seantero sekolah, sekaligus merupakan siswa dari beberapa generasi akibat sering tinggal kelas. Sering dia berbuat sewenang-wenang pada teman-teman lain, tak peduli laki-laki atau perempuan. Namun ia tak pernah merecoki saya karena beruntungnya, saya memiliki sisi yang tak bisa ia bully.

Sampai suatu kali, dia usili teman-teman putri, mencabut rambut mereka bergantian. Ada yang diam, ada yang memaki–yang tentu, respon tersebut membuatnya semakin meledakkan superioritas dan tawa yang menyebalkan! Melihat kelakuannya, saya jadi geram sehingga ketika tiba giliran, saya singkirkan tangannya dan melayangkan pukulan saat tangannya tergerak–mencoba berulah lagi. Pukulan itu mendarat di lengannya karena dengan cepat ia tangkis. Terjadilah perkelahian fisik untuk pertama kali dalam hidup saya.

Mungkin beberapa orang tak mengira saya akan melawan karena saya tipe orang yang cenderung penurut dan pendiam pada masa itu, bahkan gampang memaafkan meskipun pada orang yang telah menyobek lembar PR, mencuri benda kesayangan, dan menjelek-jelekkan saya di belakang, yang lucunya semua itu dilakukan oleh teman yang setiap hari berangkat sekolah dan bermain bersama saya. Namun waktu itu, kepada siswa laki-laki itu, saya menolak takut, apalagi gentar melawan. Mata saya justru menyorot tajam, membuat teman-teman perempuan lain berkali-kali meminta saya untuk berhenti. Bahkan saya ingat, beberapa teman laki-laki hanya bisa melihat karena tak ada yang berani dengan siswa yang satu ini. Sampai akhirnya dia mundur, tapi ingin menyerang lagi karena saya terus menatapnya benci.

“Sssst! Rin! Jangan diliatin… udah!” Teman-teman saya mengingatkan. Mata saya mulai memanas otomatis, tapi tak sudi menangis. Lengan dan bahu mulai diliputi nyeri. Tapi saya justru merasa puas karena yang jelas, perkelahian itu berhenti bukan karena saya menyerah ataupun kalah.

Menyadari bahwa saya bisa sedemikian tak terkontrol saat marah, maka saya selalu menjaga jarak setiap berteman. Kelompok pertemanan saya selalu berakhir pada kecewanya salah satu atau beberapa teman, “Rini berubah, ya?” Begitu kira-kira yang mereka ungkapkan.

Saya selalu gagal menetap di suatu lingkaran pertemanan. Saya akan otomatis menarik diri sebagai upaya untuk menjaga ritme agar tak terlalu dekat. Saya hanya takut melukai teman-teman saya sendiri, karena kepada orang dekat, tentu akan merasa tidak masalah ketika harus melampiaskan rasa kesal terang-terangan. Masalahnya, ketika hal itu terjadi, saya cenderung menyalahkan diri sendiri. Kecewa karena tidak bisa mengontrol diri, dan itu akan membuat luka yang saya punya melipat ganda.

Lagi-lagi, ternyata memendam dan memasung luka bukan keputusan tepat.

Bisa jadi kesal yang saya lampiaskan kepada “teman yang sudah dekat” ini terjadi karena pendaman rasa kesal yang tidak saya luapkan padanya sebelum kami menjadi dekat. Artinya, saya belum berdamai dengan luka yang telah lalu. Ia masih tersimpan rapi dalam “ruang gelap diri”. Empunya tak segera sadar untuk membersihkan karena merasa bahwa tindakan yang dilakukan sudah benar.

Luka, dendam, dan amarah yang terpendam tak mesti dari trauma besar. Ia bisa bersumber dari masalah-masalah kecil yang tak segera dituntaskan, yang justru ditimbun dan dibiarkan berkoloni dengan masalah-masalah lain. Bahayanya, ia bisa meledak sewaktu-waktu.

Berdamai tak hanya cukup dengan diam dan memendam lalu menunggu waktu untuk menyembuhkan. Diri kita perlu usaha, karena pihak yang paling berpengaruh dalam proses penyembuhan ini adalah diri sendiri. Menerima keadaan, ketetapan, orang sekitar, dan diri sendiri, serta melatih diri untuk tidak memikirkan yang telah lalu dan meresahkan yang akan datang memang bukan perkara mudah. Namun, mau terus terjebak dalam kubangan duka akibat luka, atau tergerak untuk merangkak keluar dari jurang nestapa pelan-pelan, sepenuhnya pilihan.

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
EkaFareshaPurwanti Hani Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Purwanti Hani
Guest
Purwanti Hani

Kita mengalami hal yang sama.

Faresha
Guest

Tulisan ini bagi saya seperti cermin. Terima kasih sudah berbagi

Eka
Guest
Eka

Wah… kenapa saya baru baca sekarang ya?
Terima kasih tulisannya, Rini.

Top