Runtuhkan Tembokmu

Meskipun lahir dengan kemampuan untuk mengingat, tetap saja ada momen yang luput dari memori kita. Yang aku ingat, aku pernah begitu disayang oleh sekitar. Seolah-olah, aku adalah karunia terbesar di dalam hidup mereka. Seakan-akan, mereka begitu yakin bahwa aku akan tumbuh menjadi seperti apa yang mereka harapkan; membawa harum nama keluarga yang lama-kelamaan terasa semakin berat untuk dipikul. Nama seperti doa; nama seperti kutukan. 

Kapan terakhir kali aku benar-benar duduk dan bercengkerama dengan mereka? Setiap harinya, rumah terasa seperti wisma dan aku hanya mencari atap bukan untuk menetap. Ibu beberapa kali melontarkan kalimat-kalimat nyinyir. Katanya, aku kurang bersyukur sebab hanya pulang ke rumah hanya untuk bermalam untuk bergegas pergi lagi di pagi hari. Di dalam kamar, aku sering menangis sendirian di kamar, saat malam begitu pekat, ketika di luar sana sudah tidak ada suara-suara manusia. Lalu aku tidak tidur karena takut untuk bangun, ragu untuk menjalani hari. Aku pun tidak menemukan cara untuk berbagi keresahan kepada mereka. Beban yang berat ini, rasanya ingin sekali aku ceritakan. Lututku semakin lemah untuk menapak, napasku terengah-engah, kepala yang sangat riuh.

Sampai akhirnya pada suatu malam, ketika aku pulang begitu larut, Ibu menunggu di ruang tamu dengan daster kesayangan dan raut wajah yang terlihat lelah dan kusut. Entah mengapa raut wajah Ibu terasa begitu tidak tenang sehingga akhirnya, aku memutuskan untuk duduk di sampingnya dan bertanya, “Ibu kenapa?”. Kemudian matanya membasah seketika. Satu dua tetes air turun dari matanya, jatuh ke telapak tanganku. Ibu menangis. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu menangis. Suara tangisannya kian mengeras dan menderas. Aku terpaku dan tak tega melihatnya. Dengan gestur yang kaku, aku usap lengan Ibu, berusaha menenangkannya. Namun, tangisannya tak kunjung berhenti. Ibu menggenggam tanganku lalu berkata, “Maafkan Ibu, ya, Nak.” 

Aku heran. Apa yang terjadi? Ibu lantas meraih secarik kertas. 

“Ibu tidak tahu kalau kamu merasakan ini semua, andai kita bisa bercerita.” Ternyata Ibu baru saja membaca curahan-curahanku. 

“Maaf Ibu lancang. Ibu tidak sengaja menemukan kertas ini,” lanjutnya dengan suara yang sudah lebih tenang. 

“Nak, Ibu dan Ayah hidup hanya untuk kamu. Ibu lalui banyak hal dalam hidup hanya untuk bisa membuat kamu mendapatkan yang terbaik dan terlayak. Kamu tahu kenapa Ibu menangis?” Ia bertanya.

“Karena Ibu kecewa karena aku tidak cerita?” Ibu malah tersenyum lirih.

“Bukan hanya itu Nak, tapi karena semua yang Ibu korbankan dan lakukan selama ini ternyata tidak cukup untuk membuatmu bahagia. Ibu merasa gagal, Nak. Pada saat itu aku menangis. 

“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku selama ini memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Maaf sudah membuat Ibu merasa gagal,” aku mengusap kelopak mata yang basah, dan melanjutkan, 

“Terima kasih atas semuanya Bu, tapi Ibu tidak seharusnya merasa bertanggung jawab penuh atas kebahagiaanku. Aku yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku sendiri,” aku lalu memeluk Ibu, erat. 

Malam itu, kami menangis bersama-sama. Ibu mengelus punggungku dan berkata, “Maka kalau begitu, bantu Ibu untuk meringankan tanggung jawabmu, ya, Nak. Sama-sama, kita bisa saling meringankan.” 

Ibu tersenyum halus dan aku pun membalas senyumannya. Malam itu, aku sadar bahwa semua orang punya cerita dan masalahnya sendiri-sendiri, juga beban yang berbeda-beda. Itu adalah tanggung jawab kita. Akan tetapi, jangan merasa sombong untuk memikul segalanya seorang diri. Tanpa kau sadari, ada mereka, yang bagian dari keluargamu sendiri, ingin sekali membantu. Dan terkadang, tembokmu terlalu besar.

Ingat, menjadi terbuka bukan berarti kamu adalah manusia yang lemah. Justru kebalikannya, kamu begitu kuat dengan menerima keresahanmu, menceritakan masalahmu, bahkan meminta bantuan untuk melewatinya.

Runtuhkan. Runtuhkan tembokmu. Sedikit, saja.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top