Gelas yang Tidak Pernah Penuh

Selain pepohonan, di pulau ini tumbuh pula standar sosial yang bergandengan dengan segala tuntutannya. Namun yang satu untuk memberi, sedangkan yang satunya lagi mencekik, terlampau menghakimi. Sedikit banyak berusaha keras memenuhinya karena makhluk sosial cenderung ingin hidup tenang tanpa dinilai buruk sana-sini. Fakta bahwa proses dan pencapaian setiap orang bersandar di waktu yang berbeda bagaikan mitos ibu pertiwi. Tuntutan sosial menjadi benturan keras di kepala, manusia dibuat amnesia akan kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Tuhan bahkan tidak ikut campur dalam perkara ini, karena benar bahwasanya Tuhan memberikan jalan terbaik dari arah yang tidak terduga dan tidak sama bagi setiap hamba-Nya yang Dia kasihi.

Sukses, cantik, dan rupawan; menjadi kosakata sifat yang berat, definisinya kini dibangun dari makna yang tidak tersirat, sehingga kata ini tidak berpihak kepada mereka yang tidak tampak dan berkarat. Standar sosial membuat semua golongan berlomba-lomba ingin bermakna, mencari validasi akan keberadaan kita, haus akan pujian hingga tidak berdaya jika suatu saat dihadapkan kepada kritik dan penghinaan. Fisik menjadi maha karya sang Pencipta yang harus muat ke dalam cetakan. Jika tidak, jangan harap akan didengarkan, terlebih mendapat penerimaan.

Entahlah kawan, ini hanyalah contoh sebagian kecilnya. Sekte pemuja takhta dan eksistensi bilang perkara ini sepele, tidak kasat mata, namun nyata adanya. Bisa jadi mereka benar, tergantung dari arah mana mereka ingin melihat. Hanya saja ada satu dan lain hal yang saya tahu, bahwa saya melihat standar sosial seperti gelas yang tidak pernah penuh. Seiring berjalannya waktu tuntutan masyarakat menjadi air yang terus-menerus mengisi gelas tersebut. Namun sayangnya standar sosial memang tidak pernah puas, tidak pernah cukup. Meski berkali-kali mencoba mengisi, gelas ini tidak akan pernah terpenuhi.

Jadi bukankah akan lebih mudah jika meletakkan gelas ini di meja dan kembali memegang prinsip masing-masing? Sebenarnya jawabannya ada di diri kita sendiri. Dari saya yang pernah mengecewakan dan dikecewakan, sejatinya tuntutan sosial adalah musuh bagi mereka yang memiliki prinsip, maka hidup memang sesederhana menghargai dan dihargai, sehingga dalam perjalanannya makna akan hadir sendiri tanpa harus mengejar dan berlari.

4.3 15 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Lika
Lika
1 month ago

Love this❤️

Top