Tahan Sebentar, Ini Hanya Sementara Saja

Lampu kamar sudah lama dipadamkan, pintunya pun telah dikunci, jaga-jaga kalau nanti ponakan yang usil menerobos masuk ketika mama papanya sedang terlelap. 

Aku kecil selalu diingatkan Ibu untuk menggosok gigi dan mencuci muka juga kaki sebelum naik ke tempat tidur. Maaf Bu, pesanmu kuabaikan dulu malam ini.

Aku bersandar di kepala kasur. Malam ini kuberikan diriku sepenuhnya pada sebuah gawai, tak sadar kalau telah lebih dari satu jam aku diperbudak olehnya.

Air mukaku biasa-biasa saja melihat apa yang ditampilkan gawai itu. Seorang teman berhasil meraih gelar impiannya di universitas yang selalu ia lampirkan di dalam doa sepertiga malam. Teman satunya lagi sudah menikah dan dikaruniai anak kembar perempuan yang menggemaskan. Teman lainnya sedang melanjutkan studi. Lelaki yang pernah kusukai semasa sekolah rupanya telah bertunangan. 

Tidak, aku tidak akan membandingkan diriku seperti yang dulu-dulu sering aku lakukan. Aku sudah pensiun dari pekerjaan merendahkan diri sendiri. Kasihan diriku ini, ia sudah berusaha semampunya tapi malah terus-menerus diledek oleh pemikirannya sendiri. Aku yang dulu sudah mati. Tidak ada lagi aku yang meremehkan kemampuan diriku, tidak ada lagi aku yang suka membandingkan diriku dengan orang-orang di sekitarku. 

Aku sadar rute yang dimiliki setiap manusia itu berbeda-beda dan aku memiliki ruteku sendiri. Memang ruteku tidaklah secepat orang-orang di luar sana, tetapi aku sangat menikmatinya. Akulah yang bertanggung jawab penuh terhadap hidupku, bukan temanku apalagi lelaki yang pernah kusukai. Biarlah sesuka hati mereka memberikan persepsi tentangku. Hidupku tidak bergantung terhadap persepsi mereka. Dirikulah yang mengendalikan hidupku, bukan mereka. 

Bertahan sebentar lagi ya, diriku? Nanti akan kita tulis cerita versi kita. Bertahan, ya? Sementara, kita nikmati dulu rute yang tidak mulus dan berbatu ini.

4 8 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top