Kontemplasi 24/7

Berapa banyak waktu yang telah terlewatkan tanpa tumbuh di tengah-tengah Ayah, Ibu, Kakak dan juga lainnya di tanah lahir? Kehilangan momen-momen penting karena riuh dan semangat mengejar angan di bagian bumi lain, tanpa tersentuh cium dan peluk erat mereka sebelum berangkat, waktu sedikit yang kita punya sekarang ternyata menjadi pengingat?

24 jam dalam hitungan waktu terasa begitu cepat, seperti memejamkan mata lalu tanpa sadar telah tertidur dan bangun kembali keesokannya. Ayah dan Ibu yang sewaktu itu hanya bisa kudengar suaranya lewat gawai, sekarang keberadaanya terasa begitu nyata. Tanpa disadari pula, ada ironi untuk kondisi saat ini, membuat kami yang jarang bertemu menjadi didekatkan kembali.

Satu bulan, dua bulan, tidak terhitung berapa detik yang telah kami habiskan bersama. Kini, di bawah naungan yang tak begitu mewah pun tak terlalu lebar petaknya, hangat itu ada di setiap sudut-sudutnya.

Siapa sangka hubungan antara bungsu, tengah maupun sulung yang terasa berjarak dan tak pernah dihabiskan bersama, perlahan membuat ruang tengah menjadi penuh celotehan. TV kecil di rumah yang disulap menjadi bioskop dadakan tak henti-hentinya memutar film komedi kesukaan kami. Ada tawa yang meledak dan ada pula haru yang timbul, semua seakan menyatu dan memenuhi langit-langit ruangan.

Meja makan yang seringnya hanya diisi beberapa kepala saja, seolah terasa hidup. Seolah tudung saji kami terbuka dan tersenyum lebar. Seolah setiap piring, sendok dan gelas ikut menyambut dan bercakap bersama kami. Dan di setiap dentingnya pula, selalu ada topik hangat, kabar terbaru situasi sekarang, sampai kelahiran anak kucing tetangga, yang seperti tiada habis untuk dibicarakan.

Masakan Ibu yang sewaktu berada jauh di perantauan terlihat seperti fatamorgana, sekarang tampak bernyawa dan bergerak-gerak. Seakan kau tinggal memasukkannya ke dalam mulutmu yang mengandung saliva. Dan dalam sepiringnya bisa kau cecap manis, asin dan gurihnya secara bersamaan. 

Di tengah gelegak tawa penikmatnya ada komentar, “Enak banget ini Bu. Tambah lagi ah nasinya.”

Meski semua ini hanya sementara, dan berada di rumah semoga tak selamanya, akan selalu ada banyak cerita dan hal yang dirindukan setelah semuanya mereda.  

Meskipun bukan untuk saat ini.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Kholifatul JannahRiska Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Riska
Guest

Love this words! :’)

Kholifatul Jannah
Guest
Kholifatul Jannah

related with my condition now

Top