folder Filed in Prosa, Sendiri, Yang Harus, Yang Lain
Bukan Salahmu
Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara.
Anna Azzahra comment 0 Comments access_time 1 min read

Puan, bilamana aku harus menggambarkan semesta dengan segala kompleksitasnya yang ada, maka aku ini terlalu miskin aksara. Karena, sungguh aku ini cuma pujangga, bukan seorang filosof alam seperti Empedocles yang mampu menganalogikan bagaimana filantropi dan rasa benci sama-sama mengatur perubahan duniawi.

Puan, perihal itu semua, aku bisa memberimu beberapa hal yang lebih ugahari, seperti selimut jahitan ibundamu yang dihiasi loberci berupa doa-doa demi sehat dan sentosamu atau seperti kokoh pundak ayahmu yang serupa Atlas ketika menopang seisi bumi manusia—menopang segala perih dan gemuruhmu.

Atau seperti napasmu yang tersengal setiap malam karena samar-samar cemas dengan segala harap yang tak kunjung tumbuh menjadi nyata. Seperti matamu yang terkadang terpaksa tumpah seperti Juni yang begitu mendung karena samar-samar resah dengan segala mala yang engkau miliki selaku manusia biasa. Seperti bibirmu yang sekali-kali gemetar mengucap selarik doa karena samar-samar takut Tuhan tidak membalasnya.

Puan, aku bisa memberimu satu hal paling sederana yang jauh-jauh ada ketika engkau pertama lahir di semesta. Begini, singkatnya dan setulus-tulusnya, terima kasih karena engkau masih ada dengan jelitamu. Terima kasih karena masih setia menunggu yang patah untuk kembali tumbuh, menunggu yang hilang untuk lekas berganti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment