Membalut Kenangan

Malam ini adalah jalan yang pernah kita tempuh dengan kayuh sepeda, berboncengan atau dengan kaki yang saling berpijak beriringan. Suasana pun menyapa di antara keheningan yang berbaur kehampaan, detik demi detik berlalu diiringi dinginnya kabut yang amat menusuk. Dengan langkah tertatih seraya bersenandung lirih, kubawa segala asa yang sia-sia menuju liang pusara; mengubur rindu-rindu yang tercampakkan dengan sesukamu; melepas semua rasa yang tak lagi berbalas dengan segenap ikhlas.

Seperti pelangi yang menghadiahkan hujan dengan warna-warni keindahan, layaknya senja yang menghiasi waktu sebelum menemui gelap dengan rona cantik yang memikat, seperti itulah kita, atau seperti itulah kamu. Atau memang begitulah prinsipnya, bahwa yang indah memang diciptakan hanya sesaat saja. Tak peduli meski kita sedang begitu menikmatinya bahkan sekalipun kita coba untuk memintanya untuk lebih lama.

Kita pernah saling berbelas kasih, seolah telah terpilih menjadi pasangan sejati layaknya Ainun dan Habibie. Tapi terkikis dan perlahan mati oleh janji-janji yang tak pernah kau tepati. Kita pernah bercanda tawa, berbagi suka dan duka cerita, cerita apa saja mengenai kita berdua, tentang tantangan perjalanan hidup, tentang idealisme yang meredup, tentang berbagai jenis perpaduan rasa yang tertuang di ibu kota. Namun perlahan, semua itu tak lagi berkesan semenjak kekecewaan datang menyerang; mendesak logikaku untuk memutuskan tali kekang di antara kita yang mengikat erat,meski hati ini selalu berkata masih ada upaya untuk memperbaikinya.

Barangkali, memang begini akhir dari apa yang telah sepenuh hati kita ukir. Mungkin saja, memang akan jauh lebih baik jika kita kembali pada jalan-jalan sebelumnya tanpa lagi saling mengusik, kembali menapaki jalur-jalur impian dengan masing-masing arah tujuan. Maka, esok dan seterusnya, tak akan lagi kurasakan peluk darimu yang menghangatkan, tak ada lagi kata dan peristiwa yang mengukirkan jejak kisah kita. Tapi, baik aku maupun kamu akan tetap baik-baik saja bersama atau tidaknya, bukan begitu? Kita akan tetap bisa baik-baik saja dan menjalani hidup dengan sebagaimana mestinya. Kita akan tetap baik-baik saja, hanya keadaanlah yang berbeda.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top