Tuhan Bersama Awal Tahun

2021 baru saja mendarat dengan selamat setelah melewati berbagai mode turbulensi, walaupun sesekali ketenangan tetap dirasa dengan nyata. Tahun baru kali ini, saya rasa, berbeda dari perayaan tahun baru biasanya. Tak ada resolusi, tak ada rasa berdebar-debar menunggu detik pergantian tahun. Bahkan rasa takut untuk menghadapi 2022 ini pun tak ada. Mati rasa, mungkin itu dua kata yang tepat yang saya rasakan saat menjelang pergantian tahun, pergantian tahun yang bagi saya hanya sebatas pergantian hari saja. Namun, malam pergantian itu tetap saya rayakan bersama kerabat dekat dengan ritual perayaan pada umumnya, membakar sosis beserta saus di atas pan panas, menyantapnya, sembari bernyanyi dengan suara sumbang. Bagi saya, menyanyi di detik-detik pergantian tahun adalah simbol bahwa tahun baru harus selalu disambut dengan keceriaan, keceriaan yang persis dengan lirik di setiap lagu yang kami bawakan saat itu. 

Kembali pada hal yang sempat saya singgung di awal, pergantian tahun ini saya seperti mati rasa terhadap hal-hal yang akan terjadi di satu tahun kedepan. Sebetulnya, bukan perkara merasa pesimistis. Bagi saya pesimistis sama artinya dengan melangkahi kata Tuhan, merasa tau apa yang akan terjadi dan meyakini begitu saja jika tak bisa melewatinya. Saya tak mengerti mengapa dari sekian belas usia di dunia, baru kali ini saya merasa hambar menyambut pergantian tahun. Apakah memang saya yang belum sepenuhnya siap dengan tekanan, paksaan, dan tuntutan? Hingga kini saya tak bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang. 

Tahun baru berarti menyambut hari yang baru. Apa pun rasa dan keadaanya, menyambut memiliki arti menerima dengan senang hati. Mungkin orang terdahulu telah menanamkan kata ‘sambut’ di setiap perayaan tahun baru, agar anak cucunya bisa menerima segala yang akan terjadi dengan hati yang bahagia. Sesaat setelah kembang api terpancar indah di langit malam, sebagai pertanda tahun telah benar-benar berganti, saya berpikir, tahun ini saya ingin mengawalinya dengan berserah diri kepada Tuhan. Berserah bagi saya bukan berarti dilakukan karena telah kehilangan arah, melainkan karena saya yakin bahwa Tuhan menyimpan rahasia pada semestanya. Segala hal yang diniatkan kepada Tuhan rasanya akan jauh lebih berharga. Saya ingin mencoba hal baru, jika biasanya membuat sederet resolusi, kini saya berserah dan berharap pada Tuhan lebih dulu, percaya jika seluruh hal yang terjadi telah diketahuinya sebelum saya sendiri memulainya. Oleh karenanya, saya akan lebih memantapkan diri melangkah maju mengikuti kata hati, tanpa harus takut tersakiti sebab jatuh oleh ekspektasi yang tinggi. Lagi-lagi, sebab saya mengawalinya sembari berserah untuk apa pun kepada Tuhan.

4.3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top