Tidak Ada Akhir yang Benar-Benar Berakhir

Sejak kecil saya selalu dibayang-bayangi kalimat: ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan menuju masa depan di setiap kelulusan atau apa pun yang berembel perpisahan. Saat lulus sd, beberapa tahun kemudian saat smp, juga sma ketika hari pelepasan siswa tiba. Saya yakin, ketika lulus kuliah nanti, kalimat itu juga akan kembali mampir di telinga, lantas masuk ke dalam otak dan dicerna dengan baik olehnya. Tak dimungkiri semakin dewasa, ketika kita telah berhasil menyelesaikan suatu tantangan besar, sebagian orang akan mampir di sela, memberi ucapan selamat, mereka tak segan akan menambah ujung perkataannya dengan kalimat yang tidak asing: ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan menuju masa depan.

Tak ada yang janggal dengan kalimat itu. Namun, baru-baru ini saya mempertanyakan eksistensi dari kalimat tersebut. Apa sebenarnya alasan di balik banyak orang, bahkan kita, untuk selalu mengucapkan kalimat yang sama di setiap hari perpisahan atau sejenisnya telah tiba? Apakah hanya ikut-ikutan, sebatas berucap tapi tak bertujuan, atau setulus itu berbicara dengan dipenuhi segudang makna pada kalimat: ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan menuju masa depan?

Saya berpikir akan hal ini. Benar adanya, seperti ketika lulus dari bangku sekolah dasar dapat dikatakan itu bukan akhir dari perjalanan, namun awal untuk kita memasuki dunia pendidikan yang lebih tinggi pada bangku sekolah menengah pertama. Begitu juga di tahapan selanjutnya. Namun, pernahkah kalian berpikir jika terus demikian, lantas manakah akhir yang benar-benar akhir dari sebuah perjalanan? Apakah ketika nyawa sudah tidak lagi melekat pada raga atau dengan kata lain ialah mati? Namun, mati pun adalah awal dari fase manusia untuk masuk ke alam berikutnya. Kembali lagi, adakah akhir yang sejatinya akhir?

Bergulat dengan pikiran sendiri, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang ini tak begitu penting adanya. Saya mencari dan terus mencari hingga detik saat saya menuliskan topik ini, belum ada jawaban pasti yang saya temukan. Entah saya yang kurang jeli atau memang betul-betul tidak ada jawabannya. Ingin bertanya pun belum juga menemukan narasumber yang tepat. Tapi, rasa-rasanya tulisan ini akan basi jika begitu saja saya sudahi.

Di sela-sela berpikir, tebersit sebuah ingatan saat beberapa waktu lalu saya mendengarkan podcast dari seorang penulis. Ia pernah mengatakan bahwa akan selalu ada lembaran baru untuk kita menuliskan sebuah cerita. Artinya bahwa selalu ada awal baru setelah cerita yang sebelumnya sudah dinyatakan selesai. Saat kita dihadapkan pada masalah kehidupan yang pelik, secara sadar kita selalu menginginkannya untuk berakhir, sekaligus berharap mendapat awalan yang lebih baik pada cerita berikutnya.

Kontemplasi yang saya lakukan, membuat saya menarik secuil kesimpulan bahwa tidak ada akhir yang benar-benar berakhir. Akhir hanyalah suatu bagian yang mengantarkan kita pada gerbang awal yang baru. Saya mulai memahami bahwa kalimat familier ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan menuju masa depan memang benar dapat dimaknai seutuhnya. Manusia tidak akan pernah menemukan akhir yang senyatanya dari sebuah perjalanan. Selalu ada awal baru untuknya berproses. Tak pernah ada cerita yang berujung, akan selalu ada cerita-cerita baru yang menunggu untuk kita jajaki. Epilog akan selalu disambut oleh prolog yang baru.

2.6 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nabilah Dhiya Ulhaq
Nabilah Dhiya Ulhaq
3 days ago

Semangattt aku 😻

Top