folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Sekarang
Teh Ibu
Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya. Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.
Anisya Nurwidya comment 0 Comments access_time 1 min read

Secangkir teh yang disuguhkan ibu pagi itu,
aromanya khas, memanggilku untuk singgah sementara.
Ku teguk air coklat itu dan…

Saat itu juga memoriku kembali ke satu titik bersamamu.

Kala pertama kau beberkan tawa renyah, menyapaku.
Ku yang saat itu sedang diam dengan mata yang menyusuri kota lama,
kau datang,
bersama ragamu yang gemilang,
dengan candaan khasmu yang kini harus ku-campakkan,
kau dengan bangga membawa secangkir teh yang kemudian kita nikmati berdua.
Di tengah-tengah itu kau bercerita, menjanjikan hidup bahagia jika kita bersama.

“Kau cantik sekali malam ini,” katanya,
dengan gamblang ku tunjukkan rona merah malu-malu ku padanya.

Redupnya lampu kota, menambah haluan mesra ku dengannya.
Kucing yang berjalan waktu itu berhenti untuk sejenak memberikan siulan kepada kami.

Dimalam itu juga, dia mengajakku berjalan sembari sekali-kali menyeruput teh pekat itu.
Hingga tak terasa sampailah kita pada sudut persimpangan kota.
Kudapati dia menutup mataku dan menggiringku pada perkumpulan pengamen jalanan itu,
kami berdendang bersama.

Satu, dua, hingga tiga hari hitungan mundur ini, dia tak ada lagi dalam cerita.
Dia yang memutuskan menutup aksara mesra dan menghentikan kidung merdu percakapan kami.

Hanya sampai di sini, ternyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment