Seperti Kanan dan Kiri

Karyamu keren sekali!; Kamu cantik ya, pintar pula!; Aku ingin sepertimu yang bisa dikenal banyak orang; Kamu tampan dan semakin rupawan karena kecerdasanmu; Hebat! Aku kagum denganmu; dan masih banyak lagi argumentasi indah yang mereka lontarkan kepada kita. Mereka lihai memberi pujian hingga terkadang membuat kita terjebak dalam buaian yang nyata. Kata-kata itu manis, menjadi sebab timbulnya kepercayaan diri untuk terus maju, meninggalkan lawan, dan meraih sukses setelah sukses pertama usai diraih. Pujian demi pujian yang didapatkan semakin memperkeras tekad seseorang dalam melampaui batasannya. Bak jembatan kokoh karena elemen yang kuat, pun kita semakin mantap berjalan di atas rintangan menuju keberhasilan.

Berbincang soal pujian yang menandakan validasi seseorang atas kelebihan yang kita miliki, rupanya sering kali membuat kita terlena dan lupa akan kekurangan yang dipunya; merasa bahwa semua telah sempurna, tak ada yang perlu diperbaiki, dan tak perlu lagi untuk sekadar menengok pada kecacatan yang masih terpampang; merasa bahwa dunia telah mengakui diri sepenuhnya. Tanpa kita sadari, ini tak seimbang.

Layaknya dunia yang diciptakan senantiasa bergandengan: baik dan buruk, manis dan pahit, kanan dan kiri, juga lebih dan kurang, maka kita tak punya daya hanya untuk mendapatkan salah satunya saja. Jika hanya kelebihan yang terus kita akui, ini hanya akan memperbesar ego dan mampu menimbulkan kecongkakan yang sulit untuk diredam. Pun, jika kekurangan yang hanya diratapi, tentu ini akan membuat kita merasa selalu terpuruk dan kemajuan tak akan pernah dicapai.

Terkadang dunia mampu secantik itu membawa kita pada arus yang tenang berupa pengakuan; memanipulasi kita untuk terbang bersama pujian-pujian, tanpa ingat bahwa tak ada satu pun manusia yang sempurna.

Menyadari kekurangan itu perlu. Banyak kekurangan yang Tuhan ciptakan untuk membuat umat-Nya tersadar bahwa kekurangan adalah penyeimbang terbaik di saat kita terbuai dalam sanjungan yang banyak orang lontarkan. Kekurangan yang kita akui mampu menjadikan kita takluk pada keagungan yang hanya Tuhan miliki. Kekurangan tak melulu soal buruk yang hanya bisa membuat kita terpuruk, tapi kekurangan adalah kekuatan yang menjadi pembangkit asa untuk menjemput hal terbaik yang telah dunia rencanakan.

Mencintai diri sendiri adalah menyadari segala hal yang kita punya, tak hanya yang baik berupa kelebihan yang telah Tuhan beri, tapi juga kekurangan. Bagaimana seseorang mampu menerima dirinya sendiri tanpa tahu apa yang menjadi kurangnya? Menyadari kekurangan menjadi suatu pembelajaran bagi kita untuk selalu menerima, memperbaiki, dan mengevaluasi diri.

Dalam hidup, tak hanya kelebihan yang diartikan secara mendalam, tetapi kekurangan juga perlu dimaknai senyatanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top