folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Lain
Senyap
Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu, namun jika dua pun terasa ragu-ragu.
Anisya Nurwidya comment 3 Comments access_time 1 min read

Kamu tahu, terkadang menjadi satu terasa rancu,
namun jika dua pun terasa ragu-ragu.
Aku paham jika raga siap tuk menanti,
namun hati tak bisa basa basi.
Terlalu durhaka kepada kenyataan.
Meronta, meminta, memaksa.

Kamu tahu, ketika sel-sel otak terkontaminasi oleh hati, ikut iri, lantas berlaku konotasi.
Terus saja meminta satu untuk bertemu satu lainnya. Gila!
Hujan menghujam, kuyub menggelayut.
Lagak drama namun sia-sia.

Kamu tahu, hampa dan sepi memaki-maki, merusak naluri insani.
Tercekat pada lorong waktu tahun ini.
Seperti kuda oleh kusirnya dicabik untuk berkelana,
membawa sejumput rumput pada masa kala itu.

Kamu tahu, retakan ini mencari retakan yang satu.
Tentu tidak mudah, semua harus berjalan normal, tak bisa dipaksakan.
Namun terkadang raga berdusta, terus mengais sampai habis pada Sang Pencipta,
dan berkata,
“Oh Tuhan, kapan satu akan berakhir? Menemukan satu yang lain, lantas sepi tak lagi dikonsumsi?”

Pahitnya, Tuhan tak menjawab kala itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment