Satu atau Dua?

Satu atau Dua? Memilih satu di antaranya, tidak semuanya, atau kedua-duanya? Mengikuti kata hati atau kebanyakan argumentasi yang telah terpatri?

Ada yang berkata jika tidak memilih satu ia akan rancu tapi jika mengikuti hatinya lantas memilih dua ia masih terlampau ragu, sebab banyak pihak memaksanya untuk memilih satu. Mereka seolah lihai untuk masuk pada setiap keputusan orang lain. Dengan dalih ia yang menurutinya akan sukses seperti kebanyakan manusia yang memilih jalan satu tersebut. Dunia ini memang sulit untuk mengikuti kata hati saja, perlu berupaya mati-matian. Stigma kebanyakan orang selalu menghantui dan seolah adalah harga mati yang jika dirinya tidak mengikuti maka akan sulit untuk beradaptasi.

Satu atau dua? Sebab terpaksa, ia sering kali membuat jalan buntu pada hidupnya sendiri. Memilih satu, seperti kata orang lain hanya untuk diakui, padahal dirinya begitu tak nyaman berdiri pada argumentasi yang tidak dibuat atas keputusannya pribadi. Kemudian, keterpaksaan berubah menjadi sebuah kefatalan. Bukannya berhasil, ia justru tak mendapat hasil. Semua yang dirancang dengan baik menjadi berbanding terbalik seakan bumerang dalam kegelapan.

Mimpi-mimpi yang ia rangkai seketika menjadi abu karena omong kosong manusia-manusia yang tak sanggup menghargai pilihannya. Terasa berat untuk memutuskan pilihan, maju susah mundur pun salah.

Terkadang menjadi pribadi yang bersifat keras kepala adalah jalan terbaik yang dapat ditempuh. Keras kepala terhadap paksaan-paksaan yang sering kali menghantui pilihan atas impian-impian yang telah sedemikian rupa dipersiapkan, tidak berarti menjadi kekanak-kanakan ketika tidak mendengarkan apa yang orang lain katakan. Namun, diri sendiri adalah seorang yang paling mengerti mana yang terbaik untuknya pribadi.

Memilih satu atau dua, bukan perihal yang patut untuk dipertengkarkan. Keduanya bisa sama-sama baik atau tidak sekali pun. Tersedia konsekuensi, ambisi, serta validasi di setiap pilihan. Mana yang terbaik bukan diukur dari seberapa banyak orang sukses ketika memilih satu sebagai jalan hidupnya, melainkan dengan memilih dua yang tidak banyak orang menjajakinya pun dapat menjadi keberhasilan yang bahkan mampu melampaui perihal kebanyakan pilihan orang.

Peduli dengan orang lain tidak melulu soal membantu secara kasat mata, tetapi peduli dapat diilhami dengan menghargai setiap pilihan yang diambil oleh sesama manusia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top