Pasca Swastamita, Aku Memahami

Pada suatu malam, saat swastamita telah benar-benar berlalu lantas mata menatap jendela yang dipenuhi kegelapan, aku berpikir, mempertanyakan apa makna cinta yang sesungguhnya, bermaksud memperdalam pemaknaan cinta agar mampu menerima sepenuhnya. Kurasa, tiap-tiap manusia memiliki pendapatnya masing-masing. Ada yang mengira jika cinta hanya soal bahagia, kesenangan yang abadi, kekuatan yang mendamaikan, dan segala hal lain yang berkaitan.

Sebagian dari mereka berkata jika bahagia belum kita dapatkan dari seseorang, itu sebuah pertanda bahwa kita tak mendapat cinta yang sesungguhnya. Pemikiran yang selalu dibelenggu arti cinta dengan hal-hal yang mampu menjadikan hati berbunga-bunga. Bagiku itu tak salah. Siapa juga yang ingin rasa cintanya penuh dengan kesakitan?

Namun, suatu hal yang kupahami bahwa cinta rupanya juga soal menerima segala yang buruk. Manusia diciptakan oleh Tuhan tanpa ada satu pun yang mencapai kata sempurna, lantas kita tak bisa semudah itu menerima cinta hanya karena kebahagiaan saja. Manusia sering membuat kecacatan entah dari skala kecil hingga besar sekali pun, kemudian dari itu apakah masih pantas menerima cinta dengan sekadar mengutamakan keindahan dan melakukan penolakan atas keburukan begitu saja?

Aku memantapkan hati untuk memaknai bahwa menerima cinta tak hanya sebatas tersenyum saat bunga menghadiri tangan cantik kita atau saat ucapan sayang terbuai di telinga. Tapi, menerima cinta juga dengan menyadari akan hadir suatu masa engkau menggenggam pahit. Menggenggam ketidaknyamanan hati, yang sadar atau tidak kepahitan dalam cinta tentu selalu ada, hal yang tidak mampu kaumungkiri. Tapi, pahit juga mampu menjadi candu, jika kita sama-sama menerima dengan cara yang sempurna dan semestinya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top