Kontemplasi Menjemput Damai

Ramadan ini, kata maaf akan sering terdengar lantang di telinga kita. Mohon maaf, menjadi ucapan yang mewakili perasaan sejuta umat kepada keluarga dan kerabat terdekatnya sekaligus sebagai simbol untuk menjalin lagi hubungan baik yang mungkin sempat terputus sebelumnya. Saling meminta dan menerima maaf adalah upaya untuk dapat sembuh dari luka yang pernah singgah.

Berbicara soal maaf, rupanya hal ini kerap menimbulkan pertanyaan bagi saya pribadi dan beberapa orang di luar sana yang mungkin berpikir sama tentang ini. Saya merasa, memaafkan orang lain adalah pekerjaan mudah ketimbang memaafkan diri sendiri. Ini terkesan sederhana bagi sebagian orang, namun tidak bagi saya sendiri. Saya menganggap apa pun yang ada di dalam tubuh seseorang adalah milik penuh bagi dirinya masing-masing termasuk ego, pikiran, juga perasaan. Sudah barang tentu mudah untuk dikuasai dan diatur sesuai kehendak yang diinginkan. Tetapi, kenyataanya tetap ada perasaan sulit untuk berdamai dengan diri sendiri.

Kejadian demi kejadian abu yang pernah dialami sering kali memperbesar ego untuk terus menyalahkan diri sendiri daripada memaafkannya dan menolak bangkit dari belenggu abu. Lambat laun ini hanya akan memunculkan retakan yang semakin besar dan mempertajam ketidakbahagiaan. Terus-menerus mengorbankan diri dengan memaafkan orang lain tapi lupa untuk juga memberi maaf kepada diri sendiri rupanya hanya akan memperkeruh keadaan dalam diri. Kontemplasi yang sering saya lakukan semakin menyadarkan saya bahwa ini bukanlah hal sederhana yang bisa dibiarkan begitu saja.

Andai saja, semua orang memahami bahwa memberi dan menerima maaf bisa menciptakan hubungan baik satu sama lain begitu juga apabila dilakukan dengan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri adalah cara membangun ikatan baik dalam diri. Ramadan ini, bukan lagi waktu untuk berlomba mengucap maaf dengan sesama, namun lupa berkata maaf pada hatinya pribadi. Saya percaya bahwa diri sendiri adalah penyelamat andal untuk bisa menyembuhkan luka yang menganga sebelumnya, tentu dengan cara-cara yang semestinya seperti mengizinkan diri untuk berdamai dengan hati.

5 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top