Matamu Tenggelam di Ufuk Barat Jakarta

Aku meneriakkan namamu dari balik gedung-gedung Jakarta. Mencarimu ke sebelas titik sudut taman kota. Hingga yang kutemukan hanya bayanganmu, bertengger di atas pohon tua. Jakarta begitu ramai dan bergema. Namun terasa sunyi ketika kamu tak ada.

Aku melihat beribu-ribu penduduk kota. Yang tiba-tiba menjelma menjadi wajahmu secara nyata. Aneh rasanya. Berada di keriuhan kota, namun terasa sangat hampa layaknya berbaring di tengah sabana.

Jakarta atau kota mana pun tak akan terasa hangat, jika jarimu jauh dan tak bisa digenggam erat.

Terima kasih ya,

Karena telah lahir dan ada.

Meski kaki kita berjarak lima negara.

Meskipun tubuhmu, hanya bisa tersentuh lewat doa.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top