Kita Pahlawan yang Tidak Pernah Sempurna

Aku duduk bersimpuh di lantai kamar, mengais kepingan diri yang pecah pada hari kemarin, meratapi bahwa jatuh dan gagal, seperti teman sejak lama. Dulu, aku sibuk menyempurnakan tiap inci dari diri agar terlihat istimewa di mata dunia. Aku pernah terbiasa menyembunyikan segelintir ketidaksempurnaanku di balik puisi-puisi lama; menyimpannya berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan membiarkannya hingga mati ditelan durasi. Ada ketakutan dalam diri yang berselimut, menggumpal, dan mengendap di sisi atas kepala. Aku pernah sangat takut, jika dunia akan melihatku sebagai onggokan daging yang tidak berguna, bersusah payah menjadi pahlawan bumi, namun selalu gagal menjaga kewarasan diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu, aku kenyang melihat kekacauan saling beradu; melihat bentuk-bentuk sandiwara dunia, dan menyadari bahwa tidak ada yang namanya sempurna. Kita akan terus dipaksa bergumul dengan kericuhan, didorong untuk terus berdiri melawan hantaman. Dan nyatanya, yang hanya bisa kita lakukan adalah menerima, menerima bahwa kita bukanlah pahlawan berbaju besi yang selalu hadir di garda depan. Bukanlah sosok yang selalu kuat memikul beban, ataupun makhluk sempurna yang sanggup menerjang awan.

Kita hanya manusia yang sesekali akan bertarung dengan rasa sedih, dan mencoba bangkit dengan perih. Hanyalah manusia yang selalu merasa asing, namun sangat hebat memikul hidup masing-masing.

Kita tidak sempurna, kita akan baik-baik saja.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top