Bertahun-tahun Melawan Kota

Aku pernah bertahun-tahun menyandarkan tubuh pada kesedihan, membuat kotak-kotak air mata yang tumpah di sebagian lantai kamar. Tubuhku seperti kumpulan dongeng beralurkan tragedi pilu yang biasa kau temukan pada unit-unit rak buku. Ada jatuhan hujan yang mengguyur kepalaku dua hari dua malam, dan gumpalan awan mendung yang bergumul di balik lampu temaram.

Aku pernah bertahun-tahun mencoba melawan kota, mengangkut sisa-sisa kesedihan dan cerita duka, lalu sibuk disembunyikan di balik bantal berwarna jingga. Pikiranku seperti terminal kota yang menyediakan teriakan-teriakan kehidupan, anak kecil yang putus sekolah, dan pengamen muda yang bersenandung nada sumbang di hari-hari melelahkan.

Aku pernah bertikai dengan diri sendiri, hingga tak ada satu pun pemenang yang akan kau temui di akhir kompetisi. Rambutku adalah helaian kegagalan yang merengek minta dilupakan. Ada secangkir susu panas yang menguap di atas meja, ditemani dengan sebungkus cemilan kegelisahan yang kusimpan selama aku beranjak dewasa.

Aku pernah tersungkur mencium bumi. Merasa sepi, sembari mengutuk apa-apa yang telah pergi. Ada rasa lelah yang terus membuntutiku hingga ke penjuru kota, dan berakhir pada sepetak kamar berdinding putih yang meraung minta dirapikan.

Indah rasanya mengingat ukiran-ukiran kehancuran masa lalu itu. Seperti ada kebanggaan yang mencuat karena kenyataannya, ada sosok yang berhasil mengentak maju dan berani mengambil langkah panjang layaknya serdadu. Pada akhirnya, hanya ada kita yang sudah bersahabat dengan kehancuran, serta berdamai dengan apa pun yang pernah membuat luruh.

Di ujung cerita, kita akan menerima bahwa waktu adalah penyembuh dari tiap-tiap potongan kegagalan dan rintihan tubuh yang tak utuh. Kita akan sembuh, kita akan kembali tangguh.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top